Friday, November 03, 2006

Dokter Sandra

San... hei aku jaga nich malam ini, elu jangan kirim pasien yang aneh-aneh ya, aku mau bobo, begitu pesanku ketika terdengar telepon di ujung sana diangkat.
"Udah makan belum?" suara merdu di seberang sana menyahut.
"Cie... illeee, perhatian nich", aku menyambung dan, "Bodo ach", lalu terdengar tuutt... tuuuttt... tuuut, rupanya telepon di sana sudah ditutup.

Malam ini aku dapat giliran jaga di bangsal bedah sedangkan di UGD alias Unit Gawat Darurat ada dr. Sandra yang jaga. Nah, UGD kalau sudah malam begini jadi pintu gerbang, jadi seluruh pasien akan masuk via UGD, nanti baru dibagi-bagi atau diputuskan oleh dokter jaga akan dikirim ke bagian mana para pasien yang perlu dirawat itu. Syukur-syukur sih bisa ditangani langsung di UGD, jadi tidak perlu merepotkan dokter bangsal. dr. Sandra sendiri harus aku akui dia cukup terampil dan pandai juga, masih sangat muda sekitar 28 tahun, cantik menurutku, tidak terlalu tinggi sekitar 165 cm dengan bodi sedang ideal, kulitnya putih dengan rambut sebahu. Sifatnya cukup pendiam, kalau bicara tenang seakan memberikan kesan sabar tapi yang sering rekan sejawat jumpai yaitu ketus dan judes apalagi kalau lagi moodnya jelek sekali. Celakanya yang sering ditunjukkan, ya seperti itu. Gara-gara itu barangkali, sampai sekarang dia masih single. Cuma dengar-dengar saja belakangan ini dia lagi punya hubungan khusus dengan dr. Anton tapi aku juga tidak pasti.

Kira-kira jam 2 pagi, kamar jaga aku diketuk dengan cukup keras juga.
"Siapa?" tanyaku masih agak malas untuk bangun, sepet benar nih mata.
"Dok, ditunggu di UGD ada pasien konsul", suara dibalik pintu itu menyahut, oh suster Lena rupanya.
"Ya", sahutku sejurus kemudian.

Sampe di UGD kulihat ada beberapa pria di dalam ruang UGD dan sayup-sayup terdengar suara rintihan halus dari ranjang periksa di ujung sana, sempat kulihat sepintas seorang pria tergeletak di sana tapi belum sempat kulihat lebih jelas ketika dr. Sandra menyongsongku, "Fran, pasien ini jari telunjuk kanannya masuk ke mesin, parah, baru setengah jam sih, tensi oke, menurutku sih amputasi (dipotong, gitu maksudnya), gimana menurut elu?" demikian resume singkat yang diberikan olehnya.

"San, elu makin cantik aja", pujiku sebelum meraih status pasien yang diberikannya padaku dan ketika aku berjalan menuju ke tempat pasien itu, sebuah cubitan keras mampir di pinggangku, sambil dr. Sandra mengiringi langkahku sehingga tidak terlalu lihat apa yang dia lakukan. Sakit juga nih.

Saat kulihat, pasien itu memang parah sekali, boleh dibilang hampir putus dan yang tertinggal cuma sedikit daging dan kulit saja.
"Dok, tolong dok... jangan dipotong", pintanya kepadaku memelas.
Akhirnya aku panggil itu si Om gendut, bosnya barangkali dan seorang rekan kerjanya untuk mendekat dan aku berikan pengertian ke mereka semua.
"Siapa nama Bapak?" begitu aku memulai percakapan sambil melirik ke status untuk memastikan bahwa status yang kupegang memang punya pasien ini.
"Praptono", sahutnya lemah.

"Begini Pak Prap, saya mengerti keadaan Bapak dan saya akan berusaha untuk mempertahankan jari Bapak, namun hal ini tidak mungkin dilakukan karena yang tersisa hanya sedikit daging dan kulit saja sehingga tidak ada lagi pembuluh darah yang mengalir sampai ke ujung jari. Bila saya jahit dan sambungkan, itu hanya untuk sementara mungkin sekitar 2 - 4 hari setelah itu jari ini akan membusuk dan mau tidak mau pada akhirnya harus dibuang juga, jadi dikerjakan 2 kali. Kalau sekarang kita lakukan hanya butuh 1 kali pengerjaan dengan hasil akhir yang lebih baik, saya akan berusaha untuk seminimal mungkin membuang jaringannya dan pada penyembuhannya nanti diharapkan lebih cepat karena lukanya rapih dan tidak compang-camping seperti ini", begitu penjelasan aku pada mereka.

Kira - kira seperempat jam kubutuhkan waktu untuk meyakinkan mereka akan tindakan yang akan kita lakukan. Setelah semuanya oke, aku minta dr. Sandra untuk menyiapkan dokumennya termasuk surat persetujuan tindakan medik dan pengurusan untuk rawat inapnya, sementara aku siapkan peralatannya dibantu oleh suster-suster dinas di UGD.

"San, elu mau jadi operatornya?" tanyaku setelah semuanya siap.
"Ehm... aku jadi asisten elu aja deh", jawabnya setelah terdiam sejenak.

Entah kenapa ruangan UGD ini walaupun ber-AC tetap saja aku merasa panas sehingga butir-butir keringat yang sebesar jagung bercucuran keluar terutama dari dahi dan hidung yang mengalir hingga ke leher saat aku kerja itu. Untung Sandra mengamati hal ini dan sebagai asisten dia cepat tanggap dan berulang kali dia menyeka keringatku. Huh... aku suka sekali waktu dia menyeka keringatku, soalnya wajahku dan wajahnya begitu dekat sehingga aku juga bisa mencium wangi tubuhnya yang begitu menggoda, lebih-lebih rambutnya yang sebahu dia gelung ke atas sehingga tampak lehernya yang putih berjenjang dan tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Benar-benar menggoda iman dan harapan.

Setengah jam kemudian selesai sudah tugasku, tinggal jahit untuk menutup luka yang kuserahkan pada dr. Sandra. Setelah itu kulepaskan sarung tangan sedikit terburu-buru, terus cuci tangan di wastafel yang ada dan segera masuk ke kamar jaga UGD untuk pipis. Ini yang membuat aku tidak tahan dari tadi ingin pipis. Daripada aku mesti lari ke bangsal bedah yang cukup jauh atau keluar UGD di ujung lorong sana juga ada toilet, lebih baik aku pilih di kamar dokter jaga UGD ini, lagi pula rasanya lebih bersih.

Saat kubuka pintu toilet (hendak keluar toilet), "Ooopsss..." terdengar jeritan kecil halus dan kulihat dr. Sandra masih sibuk berusaha menutupi tubuh bagian atasnya dengan kaos yang dipegangnya.
"Ngapain lu di sini?" tanyanya ketus.
"Aku habis pipis nih, elu juga kok nggak periksa-periksa dulu terus ngapain elu buka baju?" tanyaku tak mau disalahkan begitu saja.
"Ya, udah keluar sana", suaranya sudah lebih lembut seraya bergerak ke balik pintu biar tidak kelihatan dari luar saat kubuka pintu nanti.

Ketika aku sampai di pintu, kulihat dr. Sandra tertunduk dan... ya ampun.... pundaknya yang putih halus terlihat sampai dengan ke pangkal lengannya, "San, pundak elu bagus", bisikku dekat telinganya dan semburat merah muda segera menjalar di wajahnya dan ia masih tertunduk yang menimbulkan keberanianku untuk mengecup pundaknya perlahan. Ia tetap terdiam dan segera kulanjutkan dengan menjilat sepanjang pundaknya hingga ke pangkal leher dekat tengkuknya. Kupegang lengannya, sempat tersentuh kaos yang dipegangnya untuk menutupi bagian depan tubuhnya dan terasa agak lembab. Rupanya itu alasannya dia membuka kaosnya untuk menggantinya dengan yang baru. Berkeringat juga rupanya tadi.

Perlahan kubalikkan tubuhnya dan segera tampak punggungnya yang putih mulus, halus dan kurengkuh tubuhnya dan kembali lidahku bermain lincah di pundak dan punggungnya hingga ke tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan kusapu dengan lidahku yang basah. "Aaaccch... ach..." desahnya yang pertama dan disusul dengan jeritan kecil tertahan dilontarkannya ketika kugigit urat lehernya dengan gemas dan tubuhnya sedikit mengejang kaku. Kuraba pangkal lengannya hingga ke siku dan dengan sedikit tekanan kuusahakan untuk meluruskannya sikunya yang secara otomatis menarik kaos yang dipegangnya ikut turun ke bawah dan dari belakang pundaknya itu.

Kulihat dua buah gundukan bukit yang tidak terlalu besar tapi sangat menantang dan pada bukit yang sebelah kanan tampak tonjolannya yang masih berwarna merah dadu sedangkan yang sebelah kiri tak terlihat. Kusedot kembali urat lehernya dan ia menjerit tertahan, "Aach... ach... ssshhh", tubuhnya pun kurasakan semakin lemas oleh karena semakin berat aku menahannya.

Dengan tetap dalam dekapan, kubimbing dr. Sandra menuju ke ranjang yang ada dan perlahan kurebahkan dia, matanya masih terpejam dengan guratan nikmat terhias di senyum tipisnya, dan secara refleks tangannya bergerak menutupi buah dadanya. Kubaringkan tubuhku sendiri di sampingnya dengan tangan kiri menyangga beban tubuh, sedangkan tangan kanan mengusap lembut alis matanya terus turun ke pangkal hidung, mengitari bibir terus turun ke bawah dagu dan berakhir di ujung liang telinganya.

Senyum tipis terus menghias wajahnya dan berakhir dengan desahan halus disertai terbukanya bibir ranum itu. "Ssshhh... acchh..." Kusentuhkan bibirku sendiri ke bibirnya dan segera kami saling berpagutan penuh nafsu. Kuteroboskan lidahku memasuki mulut dan mencari lidahnya untuk saling bergesekan kemudian kugesekan lidahku ke langit-langit mulutnya, sementara tangan kananku kembali menelusuri lekuk wajahnya, leher dan terus turun menyusuri lembah bukit, kudorong tangan kanannya ke bawah dan kukitari putingnya yang menonjol itu. Lima sampai tujuh kali putaran dan putingnya semakin mengeras. Kulepaskan ciumanku dan kualihkan ke dagunya. Sandra memberikan leher bagian depannya dan kusapu lehernya dengan lidahku terus turun dan menyusuri tulang dadanya perlahan kutarik tangannya yang kiri yang masih menutupi bukitnya. Tampak kini dengan jelas kedua puting susunya masih berwarna merah dadu tapi yang kiri masih tenggelam dalam gundukan bukit. Feeling-ku, belum pernah ada yang menyentuh itu sebelumnya.

Kujilat tepat di area puting kirinya yang masih terpendam malu itu pada jilatan yang kelima atau keenam, aku lupa. Puting itu mulai menampakkan dirinya dengan malu-malu dan segera kutangkap dengan lidah dan kutekankan di gigi bagian atas, "Ach... ach... ach..." suara desisnya semakin menjadi dan kali ini tangannya juga mulai aktif memberikan perlawanan dengan mengusap rambut dan punggungku. Sambil terus memainkan kedua buah payudaranya tanganku mulai menjelajah area yang baru turun ke bawah melalui jalur tengah terus dan terus menembus batas atas celana panjangnya sedikit tekanan dan kembali meluncur ke bawah menerobos karet celana dalamnya perlahan turun sedikit dan segera tersentuh bulu-bulu yang sedikit lebih kasar. "Eeehhhm... ech..." tidak diteruskan tapi bergerak kembali naik menyusuri lipatan celana panjangnya dan sampai pada area pinggulnya dan segera kutekan dengan agak keras dan mantap, "Ach..." pekiknya kecil pendek seraya bergerak sedikit liar dan mengangkat pantat dan pinggulnya.

Segera kutekan kembali lagi pinggul ini tapi kali ini kulakukan keduanya kanan dan kiri dan, "Fran... ugh..." teriaknya tertahan. Aku kaget juga, itu kan artinya Sandra sadar siapa yang mencumbunya dan itu juga berarti dia memang memberikan kesempatan itu untukku. Matanya masih terpejam hanya-hanya kadang terbuka. Kutarik restleting celananya dan kutarik celana itu turun. Mudah, oleh karena Sandra memang menginginkannya juga, sehingga gerakan yang dilakukannya sangat membantu. Tungkainya sangat proporsional, kencang, putih mulus, tentu dia merawatnya dengan baik juga oleh karena dia juga kan berasal dari keluarga kaya, kalau tidak salah bapaknya salah satu pejabat tinggi di bea cukai. Kuraba paha bagian dalamnya turun ke bawah betis, terus turun hingga punggung kaki dan secara tak terduga Sandra meronta dan terduduk, dengan nafas memburu dan tersengal-sengal, "Fran..." desisnya tertelan oleh nafasnya yang masih memburu.

Kemudian ia mulai membuka kancing bajuku sedikit tergesa dan kubantunya lalu ia mulai mengecup dadaku yang bidang seraya tangannya bergerak aktif menarik retsleting celanaku dan menariknya lepas. Langsung saja aku berdiri dan melepaskan seluruh bajuku dan kuterjang Sandra sehingga ia rebah kembali dan kujilat mulai dari perutnya. Sementara tangannya ikut mengimbangi dengan mengusap rambutku, ketika aku sampai di selangkangannya kulihat ia memakai celana berwarna dadu dan terlihat belahan tengahnya yang sedikit cekung sementara pinggirnya menonjol keluar mirip pematang sawah dan ada sedikit noda basah di tengahnya tidak terlalu luas, ada sedikit bulu hitam yang mengintip keluar dari balik celananya. Kurapatkan tungkainya lalu kutarik celana dalamnya dan kembali kurentangkan kakinya seraya aku juga melepas celanaku. Kini kami sama berbugil, kemaluanku tegang sekali dan cukup besar untuk ukuranku. Sementara Sandra sudah mengangkang lebar tapi labia mayoranya masih tertutup rapat. Kucoba membukanya dengan jari-jari tangan kiriku dan tampak sebuah lubang kecil sebesar kancing di tengahnya diliputi oleh semacam daging yang berwarna pucat demikian juga dindingnya tampak berwarna pucat walau lebih merah dibandingkan dengan bagian tengahnya. Gila, rupanya masih perawan.

Tak lama kulihat segera keluar cairan bening yang mengalir dari lubang itu oleh karena sudah tidak ada lagi hambatan mekanik yang menghalanginya untuk keluar dan banjir disertai baunya yang khas makin terasa tajam. Baru saat itu kujulurkan lidahku untuk mengusapnya perlahan dengan sedikit tekanan. "Eehhh... ach... ach... ehhh", desahnya berkepanjangan. Sementara lidahku mencoba untuk membersihkannya namun banjir itu datang tak tertahankan. Aku kembali naik dan menindih tubuh Sandra, sementara kemaluanku menempel di selangkangannya dan aku sudah tidak tahan lagi kemudian aku mulai meremas payudara kanannya yang kenyal itu dengan kekuatan lemah yang makin lama makin kuat.

"Fran... ambilah..." bisiknya tertahan seraya menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sementara kakinya diangkat tinggi-tinggi. Dengan tangan kanan kuarahkan torpedoku untuk menembak dengan tepat. Satu kali gagal rasanya melejit ke atas oleh karena licinnya cairan yang membanjir itu, dua kali masih gagal juga namun yang ketiga rasanya aku berhasil ketika tangan Sandra tiba-tiba memegang erat kedua pergelangan tanganku dengan erat dan desisnya seperti menahan sakit dengan bibir bawah yang ia gigit sendiri. Sementara batang kejantananku rasanya mulai memasuki liang yang sempit dan membuka sesuatu lembaran, sesaat kemudian seluruh batang kemaluanku sudah tertanam dalam liang surganya dan kaki Sandra pun sudah melingkari pinggangku dengan erat dan menahanku untuk bergerak. "Tunggu", pintanya ketika aku ingin bergerak.

Beberapa saat kemudian aku mulai bergerak mengocoknya perlahan dan kaki Sandra pun sudah turun, mulanya biasa saja dan respon yang diberikan juga masih minimal, sesaat kemudian nafasnya kembali mulai memburu dan butir-butir keringat mulai tampak di dadanya, rambutnya sudah kusut basah makin mempesona dan gerakan mengocokku mulai kutingkatkan frekuensinya dan Sandra pun mulai dapat mengimbanginya.

Makin lama gerakan kami semakin seirama. Tangannya yang pada mulanya diletakkan di dadaku kini bergerak naik dan akhirnya mengusap kepala dan punggungku. "Yach... ach... eeehmm", desisnya berirama dan sesaat kemudian aku makin merasakan liang senggamanya makin sempit dan terasa makin menjempit kuat, gerakan tubuhnya makin liar. Tangannya sudah meremas bantal dan menarik kain sprei, sementara keringatku mulai menetes membasahi tubuhnya namun yang kunikmati saat ini adalah kenikmatan yang makin meningkat dan luar biasa, lain dari yang kurasakan selama ini melalui masturbasi. Makin cepat, cepat, cepat dan akhirnya kaki Sandra kembali mengunci punggungku dan menariknya lebih ke dalam bersamaan dengan pompaanku yang terakhir dan kami terdiam, sedetik kemudian.. "Eeeggghhh..." jeritannya tertahan bersamaan dengan mengalirnya cairan nikmat itu menjalar di sepanjang kemaluanku dan, "Crooot... crooot", memberikannya kenikmatan yang luar biasa. Sebaliknya bagi Sandra terasa ada semprotan kuat di dalam sana dan memberikan rasa hangat yang mengalir dan berputar serasa terus menembus ke dalam tiada berujung. Selesai sudah pertempuran namun kekakuan tubuhnya masih kurasakan, demikian juga tubuhku masih kaku.

Sesaat kemudian kuraih bantal yang tersisa, kulipat jadi dua dan kuletakkan kepalaku di situ setelah sebelumnya bergeser sedikit untuk memberinya nafas agar beban tubuhku tidak menindih paru-parunya namun tetap tubuhku menindih tubuhnya. Kulihat senyum puasnya masih mengembang di bibir mungilnya dan tubuhnya terlihat mengkilap licin karena keringat kami berdua.

"Fran... thank you", sesaat kemudian, "Ehmmm... Fran aku boleh tanya?" bisiknya perlahan.
"Ya", sahutku sambil tersenyum dan menyeka keringat yang menempel di ujung hidungnya.
"Aku... gadis keberapa yang elu tidurin?" tanyanya setelah sempat terdiam sejenak. "Yang pertama", kataku meyakinkannya, namun Sandra mengerenyitkan alisnya. "Sungguh?" tanyanya untuk meyakinkan.
"Betul... keperawanan elu aku ambil tapi perjakaku juga elu yang ambil", bisikku di telinganya. Sandra tersenyum manis.
"San, thank you juga", itu kata-kata terakhirku sebelum ia tidur terlelap kelelahan dengan senyum puas masih tersungging di bibir mungilnya dan batang kemaluanku juga masih belum keluar tapi aku juga ikut terlelap.

Sepotong Cinta Di Hutan Karet bag 3

Telah sebulan KKN selesai. Dan selama itu pula aku tidak bertemu dengan Neva. Rindu ini begitu mencabik-cabik pembuluh darah dalam nadiku dan mengakumulasi ke kelenjar otak. Bambang dan Panca, teman-teman sekontrakanku sampai heran dengan diriku yang tiba-tiba menjadi pemarah dan sensitif. Akhirnya aku ceritakan bahwa aku jatuh cinta dengan perempuan itu. Saat kutunjukkan fotonya, Panca begitu terkejut ternyata Neva teman basketnya di tim universitas. "Wah... kamu pinter milih, Yok! Kalo dia aku ya mau juga," jawabnya terkekeh
Aku tahu saat ini pasti Neva sedang ngebut nyelesain skripsinya. Dia pernah bilang dia harus selesai dalam hitungan 2 bulan. Benar-benar gila anak itu otaknya. Aku jadi malu ke diriku sendiri. Dibandingkan dia aku belum melakukan apa-apa dalam hidupku untuk diriku sendiri. Panca jadi heran dengan perubahanku yang begitu tiba-tiba. Aku jadi lebih sering mengerjakan proposal skirpsiku yang telah sekian lama terbengkelai. Jadi sering ke perpustakaan pusat (hm... siapa tahu Neva ke sana). Sudah beberapa kali aku coba ke rumahnya yang sangat besar di utara Yogya itu. Tapi mobil Don yang sering nongkrong di depan rumah itu membuatku kecul sendiri. Kamu memang pengecut Yok! Entahlah. Sampai suatu hari aku pergi ke perpustakaan dan wanita yang duduk tekun di pojok membuat wajahku pias. Neva? Dia duduk sambil memelototi buku the Trial-nya Frans Kafka (Pasti buat referensi skripsinya.)
Kacamata bacanya membuat wajahnya menjadi begitu menarik. Sosok kecerdasan yang luarbiasa digabung dengan keperempuanan yang menyihirkan.
Kudekati dia dan kusapa.
"Hei!"
"Hey!" jawabnya datar.
"Sedang apa?
"Berenang!" jawabnya seenaknya. Seharusnya aku tahu, aku tak bisa mengganggunya kalau sudah ada buku di tangannya. Biar ada bom meledakpun dia tak akan bergeming. Aku hanya terdiam memandangnya sambil berharap dia akan memandangku, tapi harapanku itu sia-sia. Dia tak bergeming sedikitpun. Sampai sebuah sosok laki-laki mendekat ke arah kami, Don!
"Hey.. Yok? sudah lama?" sapanya hangat Aku hanya mengangguk dengan senyum yang pasti begitu aneh. Neva segera bangkit. "Yuk Don pulang... pulang dulu ya Yok!" tanpa menunggu jawabanku dia mengeloyor pergi begitu saja. Aku hanya terbengong dan kelu.

Kriiing! Weker ayamku membangunkan tidur siangku. Dengan kecepatan kilat yang luar biasa aku mandi dan segera bergegas mengambil ranselku, Sialan, kenapa sih pak Sutoyo dosen pembimbingku bikin janji jam 4 sore gini. Saat membereskan laporan-laporanku si Bambang menggedor pintu kamarku. "Yok... aku berangkat dulu, pulangnya mungkin bulan depan," pamitnya. Ya ampun baru aku ingat sore ini dia mau ke Sulawesi mau melamar tunangannya.
" Ya... hati-hati... salam buat Tasya!".
Tak berapa lama kemudian pintuku mulai digedor lagi. Kenapa lagi sih ? "Ngapain Mbang? Ada yang ketinggalan?"
"Ngg... anu Yok ada tamu!"
Kenapa sih anak itu, ada tamu kok mbingungi. Segera kubuka pintu kamarku. Seolah-olah ada sebongkah besar batu menyekat tenggorokanku dan aku hampir tak bisa dibuat bernapas karenanya. Neva! Perempuan itu berdiri dengan kostum seperti biasanya, kaos dan jeans belel. Tapi di pundaknya ada ransel yang lumayan besar. Mau ke Merapikah?
"hey... boleh nginap di sini?" tanyanya cuek dan tanpa menunggu jawabanku dia langsung masuk kamar. Ah anak itu memang penuh dengan kejutan. Seperti orang linglung aku bahkan tak sempat mengenalkan Bambang yang terburu-buru pergi.
"Mama nyusul Papa ke New York. Don pergi ke Kalimantan. Ada riset di Kalcoal. Males di rumah. Sepi!" seolah-olah tahu keherananku dia merebahkan tubuhnya ke kasur yang tergeletak begitu saja di lantai. Anak tunggal pasangan dokter bedah ternama di kota ini memang paling takut sendiri di rumahnya yang super besar itu.
"Sampai kapan?" tanyaku sekenanya.
"Tahu! Mungkin sebulan. Kalo mama dan papa sih lima minggu. Soalnya mereka mau ke Eropa sekalian. Nengokin om Jon, adik mama di Paris. Kamu kalo mau pergi, pergi aja aku ngantuk!" dia lalu membalikkan tubuhnya . Kalau tidak ingat dosenku itu sangat susah ditemui, pasti kubatalkan kepergianku.

Sepanjang pertemuanku dengan pak Sutoyo, tidak sedetikpun konsentrasiku ke proposal yang aku bikin. Sialnya dosenku itu justru malah kuliah panjang lebar tentang teoriku yang salah. Saat sesi itu selesai, baru kusadar telah tiga jam aku meninggalkan Neva di rumah kontrakkanku. Bagaikan kesetanan aku memacu motor tuaku ke rumah kontrakkanku di daerah Mbesi sambil tak lupa menyempatkan di warung langggananku untuk 2 botol besar Coke dan seplastik es batu (minuman kesukaan Neva). Hm.. mengapa rumahku gelap? Pasti si Neva ketiduran. Kubuka gerendel, aku terkejut beberapa lilin menerangi kamar tamuku. Mati listrikkah? Sayup-sayup kudengar kaset Michael Frank dari kamarku. Lalu dengan pelan takut menganggu tidur perempuan itu kubuka kamarku. Dan pemandangan di kamarku membuat kedua mataku hampir keluar dari tempatnya karena ketakjubanku. Beberapa lilin yang mengapung di tembikar yang penuh dengan kemboja nampak menghiasi beberapa sudut ruangan. Spreiku telah diganti menjadi biru tua polos dan bertaburan melati dan bau dupa eksotis membuat kamarku demikian cozy. Beginikah honeymoon suite room? Neva dengan rok terusan selutut bertali dan sersiluet A tersenyum menyambutku. Kain rok itu begitu tipis dan ringan, warna putihnya mengingatkan aku pada turis-turis yang sering memakainya di Malioboro. Tampak kedua dadanya penuh dan kedua puncak hitamnya yang menonjol menyadarkanku bahwa dia tidak memakai bra hitam kesukaannya. Setangkai kamboja menyelip di telinganya. Ah... pantas bule-bule itu menyukai perempuan negeri ini. Ada satu karakter yang kuat memancar dengan dahsyatnya. Saat lagu "Lady wants to Know" mengalun, Neva memegang tanganku.
"Shall we dance?". Kuletakkan semua bawaanku begitu saja dan dengan ketakjuban yang masih menyelimuti perasaanku kusambut tangannya, kupeluk dia dengan kerinduan yang tak kunjung usai. Harum parfum Opiumnya Yves Saint Laurent semakin meempererat pelukanku. Sesekali kucium tangannya yang kugemnggam sangat erat. Kamipun terus berpelukan hingga satu lagu itu usai. Saat lagu kedua mulai, tiba-tiba perempuan itu mendongakkan kepalanya yang tadinya rebah di dadaku.
"Bercintalah denganku?
Setubuhi aku dengan jiwamu...
Bawalah aku ke dalam darahmu
Biarlah aku terus menjadi hantu yang selalu menghuni satu sudut ruang hatimu..." bisiknya lembut.
Kata-kata itu bagaikan sihir yang membutakan seluruh sendi kesadaranku. Tanganku turun dan dengan perlahan kusentuh dengan lembut kedua dadanya. Bibirnya yang penuh kukecup dengan penuh kasih lalu segera kulumat dan kuteruskan dengan penjelajahan ke lehernya dengan kecupan-kecupan hangat. Gigitan-gigitan kecil di dadanya terkadang membuatnya tersengat. Kain di dadanya segera basah oleh ciumanku dan kedua puncak hitamnya tegak berdiri di balik samar warna putih. Dengan kepasrahan yang penuh, perempuan itu kugendong ke ranjangku. Kubuka dengan perlahan bajuku dan dalam hitunga detik kami telah ada dalam kepolosan yang purba."Please... explore me!" rintihnya saat kujilati bibir kewanitaannya. Entah mengapa aku begitu kreatif saat itu. Segera kuambil ikat pinggangku dan kuikat kedua tangannya kebelekang lalu dia kududukkan sambil kututup mataku dengan syal batik ibuku yang selalu kubawa. Oh Tuhan (masih pantaskah aku menyebutNya?) betapa menggairahkan pemandangan di dekapanku. Kuambil bongkahan es batu dalam plastik dan kubanting ke lantai.
Gedubraaaak!
"Suara apa itu?" pekiknya kaget. Pertanyaan itu tidak kujawab dengan jawaban tetapi dengan ciuman liar dan hangat di bibirnya. Tanganku memegang sebongkah es batu dan kutelusuri seluruh tubuhnya dengan es itu dengan gerakan bagai lidah di tempat-tempat sensitifnya."Arrgh.. ah... ugh.. ugh!" dia menggelinjang dengan hebatnya karena sensasi itu. Saat kupermainkan bongkahan es di puncak hitamnya yang sangat kaku mengeras dia mengaduh "Uuuh... hisap... please!" rintihnya. Lalu kuhisap ke dua puncak itu sambil kugigit-gigit kecil. Gelinjangnya semakin liar. Lalu es itu kujelajahkan di atas kewanitaannya. Tanpa dapat dibendung lagi dia mengerang hebat dengan erangan yang tak pernah kudengar (ah mungkin waktu itu tempatnya tidak sebebas di kontrakkanku). "Arrgh.. uh.. oh... yessss... oh... ah.. great... baby..." saat es yg semakin kecil itu kumasukkan ke dalam kewanitaannya dan kumainkan bagai lidahku dia mengerang dan memohon untuk kusetubuhi dengan kelelelakianku.
"Please Yok... setubuhi aku.. ayo.... ah...." tapi aku tidak melakukannya, justru aku segera melumat kewanitaannya dengan lidahku. Karena kedua tangannya masih terikat dia tidak bisa memegang kepalaku untuk dibenamkannya ke kewanitaannya dan dia menggunakan kedua kakinya untuk menjepit tubuhku. Erangannya makin hebat saat kuhisap cairan di kewanitaannya, kujulurkan lidahku makin dalam... dan dalam...
"Aaaaaaaaargh!... argh....oh yesssssssssssssssss!" Kuhisap, kulumat dengan keliaran yang tak terkendali. Persetan dengan yang mendengar saat kudengar bunyi pintu terbuka. Itu pasti Panca. Benar, mungkin karena sungkan, dia segera masuk ke kamarnya. Erangan perempuan itu, semakin keras saat kutanamkan dalam-dalam kelelakianku ke lubang kewanitaannya.
"Oh yesssssssss!... arghhhhhh!" dia tak bisa bebas meronta, hanya panggulnya yang diangkatnya tinggi-tinggi untuk dibenamkan semakin dalam. Saat kubuka matanya dan talinya dia segera mendorongku hingga aku terjembab dan dicabutnya kewanitannya. Dia lalu jongkok di atas wajahku dengan posisi terbalik. Lalu dengan liar dihisapnya kelelakianku. Dikulumnya dalam-dalam, di saat yang bersamaan akupun bisa memainkan lidahku di kewanitannya.
"Ahh.. uh... ah..." begitu nikmat luar biasa, Kulumannya semakin liar di kelelakianku sambil sesekali digigit kecil pangkalnya. Kedua bukit indahnya yang menggantung segera kuremas dan kupilin keras.
"Auw...." Jerit kecilnya saat aku memilin putiknya terlalu keras. Neva semakin hebat mengulum kelelakianku sambil menggoyangkan kewanitaannya agar lidahku bisa masuk lebih dalam. Lalu dengan waktu yang bersamaan kami mencapai sensasi erangan yang memekakkan.
"Aaargh... oh YESSSSSSSSS!" lava yang begitu deras keluar dari kelelakianku, segera direguknya cairan itu. Oh indah luar biasa... Tuhan.. aku begitu mencintainya. Dan malam itu kami terus bercinta hingga pagi menjelang.

Sudah hampir 2 minggu ini Neva tinggal bersamaku. Selama itu pula erangan-erangan dan lenguhan-lenguhan kami telah menjadi seuatu yang biasa di kontrakkanku. Setiap hari kami bercinta, terkadang pagi, siang dan setiap malam. Hampir seluruh sudut rumah ini telah sempat menjadi 'ranjang' kami (tentunya saat Panca pergi). Panca sudah terbiasa mendengar teriakan-teriakan kepuasan dari kamarku, bahkan kami terkadang berciuman dengan seenaknya di depannya. Pancapun hanya menggerutu, "Huh... jadi kambing congek nih..." Lalu kamipun hanya tertawa melihat ekspresi sahabatku itu. Lalu dengan sekali pandang kami segera masuk kamar. Biasanya Neva masih sempat menggoda Panca dengan kenakalannya.
"Hey... jangan pengin lho Pan?"
"Huh cah edan!" sahabatku itu begitu pengertian sambil tetap bersungut dia masuk kamar sambil meneruskan gerutuannya:
"Tereaknya jangan kenceng-kenceng!" lalu erangan-erangan hasratpun kembali menguak di antara keringat-keringat kami. Hari-haripun berlalu demikian indahnya. Hingga suatu siang, saat aku pulang dari kampus aku begitu terkejut saat melihatnya berkemas.
"mau ke mana Nev...?"
"Pulang," Jawabnya pendek.
"Mama Papa udah balik?" dia hanya menggeleng.
"Besok Don pulang!"
Pyaaaar! Tiba-tiba kepalaku pening. Ada kemarahan yang tiba-tiba meyerang. Tidak, aku tidak marah kepadanya, aku hanya marah dengan situasi ini.
"Tinggallah bersamaku," pintaku. Kurasakan ada nada putus asa di dalamnya. Perempuan itu menggelengkan kepala.
"Tidak. Don akan marah kalau ke rumah aku nggak ada". Don, lagi-lagi Don!
Kenapa nama itu tidak hilang dari hatinya. Tidak puaskah dia dengan cintaku? Keputusasaanku akhirnya terakumulasi dengan kemarahanku. Kutarik tubuhnya ke pelukanku, kudekap tubuhnya kuat-kuat. Diapun mengejang dengan pandangan bingung. Tiba-tiba kudengar suaraku meninggi.
"Tidak! Kau harus tinggal!" melihat perempuan itu tetap menggeleng aku semakin tak terkendali. Yang ada di kepalaku cuma satu, dia harus jadi milikku, selamanya! Dan keluarlah kalimatku yang kusesali hingga saat ini:
"Jadi, kuanggap aku gigolomu. Harusnya kamu bayar aku mahal, Nev!"
Plaak! Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Kulihat kemarahan luar biasa di matanya. Badannya bergetar dengan hebat. Aku semakin kalap segera kugumul dan kutindih dia dengan tubuhku. Dia meronta dan akupun semakin marah. Segera kubuka celanaku dan kupelorotkan celana pendeknya sekaligus celana dalamnya. Lalu dengan kasar kusetubuhi perempuan kecintaanku itu dengan ganas. Neva berteriak kesakitan karena secara alami tubuhnya menolak. Tapi aku tidak peduli dan dengan sengaja kumasukkan dalam-dalam lava kelelakianku (selama ini aku tidak pernah memasukkan ke dalam kecuali dengan karet pengaman). Aku ingin dia hamil. Hanya itu satu-satunya cara untuk memilikinya.
"Oh..jangan..." Teriakannya semakin membulatkan niatku. Setelah semuanya selesai, baru kusadari ada buliran air mengalir dengan deras dari kedua mata indahnya. Ya... Tuhan Apa yang telah kuperbuat terhadap perempuan yang sangat kucintai dalam hidupku ini? Tanpa berkata sepatahpun dia segera meberei tubuhnya dan sambil membawa bawaannya dia pergi tanpa menoleh sedikitpun kepadaku. Siang itu di tengah guyuran hujan yang turun dengan tiba-tiba, menjadi saat terakhir aku melihatnya. Aku begitu sakit ....
Aku berusaha puluhan kali menemuinya ke rumahnya, tapi hanya pembantunya yang keluar dan bilang nonanya pergi atau seribu alasan lainnya. Nev... aku hanya minta maaf. Di hari wisudanyapun ternyata dia tidak datang. Aku semakin tenggelam dalam rasa bersalahku. Hingga suatu siang ada suara mengetuk. Nevakah? Begitu kubuka ternyata Don. Belum sempat aku bertanya sebuah pukulan mendarat di mukaku. Don hanya berkata lirih sambil melemparkan sepucuk surat, "Goblok! Kamu hampir memilikinya, tapi kamu sendiri yang merusaknya".
Sambil menahan perih kubaca surat itu. Surat Neva!

"Don-ku sayang...
Maafkan aku. Saat kau baca surat ini aku sudah di Paris, kebetulan om Jon nawarin aku tinggal di sana. Jadi sekalian aku ambil sekolah film sekalian. Maafkan aku tak sempat bilang padamu tentang keputusanku ini. Don, tadinya kamu adalah satu-satunya lelaki yang ingin kuberikan seluruh hidupku. Aku menjadi sangat terluka saat kamu tidak menginginkan anak dariku. Meski kamu akhirnya mau menikah denganku.... Tetapi ternyata semuanya menjadi lain saat aku bertemu Iyok (Ah alangkah senangnya jika ada satu sosok gabungan antar dirimu dan Iyok). Aku juga menginginkan hidup bersamanya. Dan itu tidak adil bukan? Aku merasa mengkhianatimu saat bersamanya dan mengkhianatinya saat bersamamu. Saat kamu pergi ke Kalimantan aku pikir itu saat yang tepat untuk menguji perasaanku kepadamu dan kepadanya. Hidup bersamanya begitu rileks aku sungguh menikmatinya. Hampir saja kuputuskan untuk hidup bersamanya. Tapi ternyata rasa cintanya begitu 'menyesak'kan ruangku. Akupun tidak bisa hidup dengan cara itu.
Don, aku harap kamu mengerti dengan pilihanku ini. Aku mencintaimu selamanya aku mencintaimu. Jika kamu sempat bertemu Iyok, tolong katakan bahwa aku hanya menyesal dia tidak bisa merasakan perasaanku kepadanya... just take care of yourself. Neva."

Aku hanya termangu. Karena itu setiap tahun aku pasti menyempatkan pergi ke hutan karet itu dengan seribu satu alasan ke istriku....

BAPAK ITU MENYIMPAN KAMI

Sinopsis: Sersan Wardi dan Deni menyangka jebakan mereka ampuh, tapi mereka tidak sadar bahwa Joe telah melangkah lebih jauh, bahkan sebenarnya permainan ada di tangan Joe. Sementara itu, misteri suara-suara menakutkan mulai terungkap. Tampaknya Nungki harus berjuang sendiri untuk menyelamatkan jiwanya.

Bagian Satu

Deni memandang gelisah ke arah jalanan yang masih penuh sesak dalam kemacetan regular sore hari. Benaknya terasa begitu kacau saat itu. Bagaimana kalau bapak itu mencegatnya di pinggir jalan dan begitu saja menggorok kepalanya? Bagaimana kalau ternyata orang yang digambarkannya bukan pelaku aslinya? Bagaimana kalau ia tak pernah lagi menatap indahnya mentari? Sekitar seperempat jam Deni berkutat dengan pemikirannya sebelum Sersan Wardi mengejutkannya dari belakang. "Hey. Jangan melamun."
Deni membalikkan tubuhnya dan menerima sekaleng Coca Cola yang disuguhkan kepadanya. "Thanks."
Sersan Wardi tersenyum dan menenggak minumannya sendiri.
"Pak," bisik Deni lirih seolah tak ingin orang-orang lain di kios itu mendengar pembicaraan mereka, "kok saya jadi takut, ya?"
Sersan Wardi terkekeh dan menepuk pundak pemuda di sebelahnya. "Sudahlah. Jangan khawatir. Dengan saya kamu akan aman-aman saja." Sersan Wardi menyingkap rompi hijau tuanya dan Deni merasa bulu kuduknya meremang melihat benda hitam berkilat yang terselip di pinggang si Sersan.
"Ya, kalau Bapak merasa begitu," ucapnya sambil lalu dan meneguk minumannya. Sersan Wardi tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya.
"Mungkin suatu hal yang susah untuk menemukan pelaku di antara sekian banyak manusia yang berkeliaran di kota ini." Deni mengangguk mendengarkan pernyataan itu. Dalam hati Deni membenarkan ucapan itu. Lagipula belum tentu pelaku itu tahu di mana ia berada sekarang.

Mendadak Deni merasa seseorang menghembus daun kupingnya.

Pemuda itu menoleh ke belakang dan melihat tidak ada siapapun di sana. Hanya pemilik kios dan seorang bapak gemuk berpakaian safari yang masih memilih-milih minuman dalam kotak pendingin. Deni memandang ke sekelilinnya dan mengira-ngira, apakah hembusan itu hanya perasaannya sendiri.
"Ada apa, Dik?" Sersan Wardi memandang ke arahnya dengan tatapan penuh tanya. Deni menggelengkan kepalanya, "Entahlah, Pak. Tadi saya seakan merasakan sesuatu." Sersan Wardi tertawa dan merangkul Deni seraya berkata, "Itu hanya karena kamu merasa tegang." Beberapa saat kemudian raut wajah Sersan Wardi berubah tegang, "Apa ini?" Deni merasakan sesuatu direnggut dari punggungnya. Cepat pemuda itu membalikkan tubuh menghadap Sersan Wardi yang sudah memegang sehelai kertas tipis di tangannya. Wajah Sersan itu terlihat tegang saat membaca surat itu, kemudian matanya memandang ke sekeliling, tangannya perlahan merogoh ke balik rompi hijau tuanya. Deni mengambil kertas di tangan si Sersan dan merasakan keringat dingin mengalir di tengkuknya saat membaca isi surat itu. Huruf-huruf di kertas itu disusun dengan menggunting huruf dari berbagai judul berita surat kabar. Walaupun berbeda satu huruf dengan lainnya, namun huruf-huruf itu tersusun rapi.

"I SEE YOU, I TOUCH YOU"

Bapak tadi! Deni memutar tubuhnya dan mencari-cari, tapi bapak berpakaian safari tadi sudah menghilang.

Bagian Dua

Nungki terbangun hari itu dengan tangan masih memeluk buku kecil bergambar Hello Kitty. Gadis itu mengerjapkan matanya sebentar berusaha memulihkan kesadarannya. Rumah itu terasa sepi. Dalam hati Nungki bertanya-tanya kemana Joe pergi. Nungki menggeliat dan mengangkat tubuhnya. Matanya menatap ke arah buku yang terjatuh karena gerakannya barusan, dan rasa keingintahuannya menyeruak kembali. Ia sudah menghabiskan hampir setengah dari isi buku itu semalaman. Nungki mencoba mengingat-ingat semua yang dituturkan gadis bernama Vika di buku hariannya. Dari tahun 1993 sampai dengan awal tahun 1994 buku itu bercerita tentang kesepian gadis Vika, di mana kedua orang tuanya, terutama ibunya, jarang sekali memberikan perhatian yang cukup padanya. Dan bagaimana pergaulan Vika yang menurut Nungki nyaris mirip dengannya. Selalu kesepian di tengah keramaian. Dari buku harian itu pula Nungki mengetahui bahwa pada tahun 1993 ibu gadis itu, isteri Joe, meninggal karena sebab yang bahkan gadis Vika sendiri tidak tahu mengapa.

"Dan sejak ulang tahun Vika, Vika tidak pernah lagi menjumpai Mama. Kitty, Vika tidak mengerti ke mana Mama pergi. Apakah Mama tidak sayang lagi pada Vika? Kata Papa, Mama sudah pergi dan nggak akan kembali lagi.?"

…dan sebuah alinea yang berbunyi demikian

"Kitty, Vika benci Papa. Vika tahu Mama sudah meninggal. Kenapa? Karena Vika mendengar sendiri Papa menangis malam itu sambil bilang, 'Hanah. Kenapa kamu harus meninggal'. Vika kan bukan anak kecil lagi yang bisa dibodohi seperti itu. Tapi masalahnya, kenapa Papa tidak pernah mengunjungi makam Mama? Apakah Papa dan Mama berkelahi? Lalu mengapa Mama meninggal? Jelas saja dong, Vika tidak berani bertanya pada Papa. Nanti Papa marah, Vika kan takut. Satu lagi, Kitty. Vika sering mendengar Papa menangis malam-malam."

Nungki mengingat benar kata demi kata yang sempat membuatnya menangis sesunggukan karena kerinduan kepada ibunya yang mendadak menyeruak dalam hatinya. Tapi meninggal tanpa sebab? Itu merupakan sesuatu hal yang benar-benar mengundang rasa ingin tahunya.

Dan kini ia berniat melanjutkannya. Nungki ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan gadis itu. Mungkin ia akan menemukan juga penyebab mengapa Joe menyekapnya di ruangan itu, seperti penyebab mengapa ia mendengar erangan-erangan aneh kemarin malam.

"29 Maret 1994

Di luar hujan. Kenapa ya, Kitty. Vika merasa takut sendirian akhir-akhir ini. Suara tangis Papa terdengar semakin sering. Dulunya sih dua kali seminggu-an begitu. Tapi sekarang Vika nyaris bisa mendengarnya setiap hari. Anehnya, mengapa Papa selalu kelihatan biasa saja menjelang pagi?"

Nungki merasa bulu kuduknya merinding. Mungkin ada sesuatu yang salah dengan kematian isteri Joe yang membuatnya sebegitu gelisah hingga menangis tiap malam. Apakah Joe membunuh isterinya? Nungki meneruskan membuka lembaran berikutnya. Ternyata lembaran itu adalah lembaran terakhir yang terisi tulisan. Nungki menghela nafasnya kecewa, tapi ia meneruskan membaca.

"1 Juni 1994

Hari ini Opa dan Oma akan menjemput Vika. Bayangkan, Vika akan ke luar negeri. Asik, loh Kitty. Kata Papa sih, Opa dan Oma mau ngajak Vika jalan-jalan. Pokoknya Kitty jangan khawatir dech, nanti Vika bawain oleh-oleh dari sana. Ikut? Jangan dech. Kitty di sini saja nemanin Papa, biar Papa ngga kesepian."

Dan itu adalah tulisan yang terakhir. Rupanya Vika hanya satu setengah tahun menulis di bukunya. Nungki berpikir sejenak. Lalu mengapa tidak ada lagi tulisan di buku ini, sementara di atas meja rias foto itu bertuliskan tahun 1996? Nungki merenung sejenak. Mungkin Vika akhirnya menetap di sana dan melupakan buku hariannya.
Berpikir demikian Nungki menghela nafas dan menutup buku kecil di tangannya. Sama sekali tidak ada petunjuk. Gadis itu mulai gelisah. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Banyak hal yang belum jelas di pikirannya. Yang pasti, firasatnya mengatakan kalau ia berlama-lama di tempat ini, sesuatu yang mengerikan akan terjadi padanya.

Bagian Tiga

Joe melepaskan baju safari dan kaca mata gelap yang ia kenakan. Tersenyum puas setelah memberikan peringatan pada pemuda itu. Joe melangkahkan kakinya menuju tong sampah di sudut gang, membuang baju dan kaca mata itu, lalu melangkah menuju mobil barunya. Joe terkekeh saat melangkah masuk. Mereka akan menghabiskan waktu mencari mobil Timor hitam yang sudah dipajang di depan etalase toko itu.
Joe menginjak pedal gas dan berlalu. Dari kaca spion ia masih melihat pemuda itu kebingungan membalikkan tubuh ke sana ke mari mencari-cari siapa yang menempelkan kertas itu di punggungnya. Dengan masih tersenyum puas Joe melajukan mobilnya pulang.

Joe membawa bungkusan makanan itu dengan hati-hati dan membuka pintu ruang tamu. Bibirnya bersiul riang. Hari ini ia telah melakukan sesuatu yang menurutnya menyenangkan. Joe melangkah menuju ke arah dapur yang masih terlihat kemerahan di sudut-sudutnya. Lelaki itu meletakkan bungkusan makanan di atas meja dan mengeluarkannya satu demi satu. Sebelum pening di kepalanya kembali kumat.
"Arrgghh!!" Joe memegangi kepalanya dan menjambak rambutnya. Teriakan dan erangan itu melintas lagi di kepalanya.
"Tolong…. Jangan… tolong…." Joe memukulkan tangannya keras-keras ke atas meja, menimbulkan suara berdebum yang mengejutkan. Beberapa saat kemudian suara-suara itu hilang dari benaknya. Joe mengusap peluh yang mengalir di pelipisnya tanpa ia sadari. "Sinting," makinya lalu meneruskan mengeluarkan bahan makanan dari bungkusan di atas meja.

Joe meletakkan nasi goreng instan itu di atas baki dan tersenyum puas. Ia bertanya-tanya sedang apa gadis baru itu saat ini? Oh, ya. Joe membalikkan tubuhnya dan meraih gulungan koran di atas mesin cuci piring. Aku akang mengejutkannya. Dengan hati-hati Joe mengangkat baki makanan dan melangkah melintasi lorong menuju ke kamar putrinya yang sudah meninggal.
Joe menaruh baki makanan di atas lantai dan mengambil segepok kunci dari kantung celananya, memasukkan anak kunci itu dan memutar gagang pintu. Bibirnya tersenyum saat melihat gadis itu masih di atas tempat tidur. Sejenak benaknya melayang pada saat Hanah masih hidup. Saat-saat yang sama ketika ia mengantarkan makanan untuk isterinya yang bahkan tak sempat dimakamkan itu.

Gadis di depannya hanya memandang tak berkedip saat ia meletakkan baki makanan itu di atas meja, "Hai, selamat siang." Gadis itu mengangguk padanya. Gadis ini berani, pikir Joe dalam hatinya. Sejenak ia merasa sayang apabila harus mencungkil keluar mata gadis yang masih menatapnya itu. Tapi rasa sayang itu takkan bisa mengalahkan rasa sayangnya pada malaikat kecilnya yang sudah menanti tak sabar di dalam bathtub.
"Joe." Joe mendengar gadis itu menyapanya, "Ya?"
"Joe," gadis itu mengulang namanya, "kemana anak dan isterimu pergi? Apakah mereka meninggalkanmu?"

Joe terkesiap. Rasa pening itu kembali merasukinya. Hanah. Vika.

"Tidaaakkk!!!" Joe menjerit histeris, tangannya terayun dan baki makan di atas meja terjatuh menimbulkan bunyi berkelontang. Gadis di atas tempat tidur melompat dan terjatuh ke sudut ruangan. Joe menjambaki rambutnya dengan wajah berkerut.
Rasa pening itu hilang dalam sekejap. Joe melepaskan tangannya, mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap adis yang sudah menyudutkan tubuhnya dengan berurai air mata.
"Ah, mereka?" Joe menenangkan dirinya dan membereskan tumpahan nasi goreng di lantai. "Mereka ada di kamarku."
Gadis itu tetap di sudut ruangan. Joe melirik ke kanan dan ke kiri sebelum menemukan buku kecil itu terselip di balik bantal. Joe mengulurkan tangannya dan mengambil buku kecil itu. Ingatan demi ingatan saat ia memberikan buku itu pada malaikat kecilnya terulang kembali, tanpa sadar Joe menangis dengan tersenyum.
"Vika," desahnya seperti membisik. Dimasukkannya buku kecil itu ke saku belakang celananya, dan kembali menatap gadis di sudut kamar. "Lihat apa yang sudah kamu lakukan? Itu kan makan siang kamu?" Gadis itu hanya terdiam dengan bahu masih bergetar. Joe menghela nafasnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Sebelum menutup pintu, Joe teringat sesuatu. Diambilnya gulungan koran dari balik bajunya dan melemparkan gulungan koran itu ke arah si gadis seraya berkata, "Oh, ya. Ini cowok kamu, bukan? Jangan khawatir, sebentar lagi ia akan menemani kamu di sini." Dengan tersenyum puas Joe menutup pintu dan melangkah menelusuri lorong di depan kamar. Belum sampai di sudut lorong, Joe mendengar jeritan histeris dari gadis di dalam kamar. Joe menyeringai puas dan menuju kamarnya sendiri, di mana kedua buah hatinya sudah menunggu.

Joe menatap malaikat kecilnya dan tersenyum. Air mata mengalir di pipinya. "Ini punya kamu kan, Sayang?" Walau mayat rusak itu masih tetap diam, namun Joe seakan bisa melihat malaikat kecilnya mengangguk dan tersenyum. Sebuah suara terngiang di telinganya, "Thanks, Papa." Dan Joe menyeringai seraya meletakkan buku kecil di tangannya ke samping bathtub. Joe melangkah menuju meja kerjanya yang terletak di samping pintu masuk kamar. Tangannya membungkar laci meja tersebut dan mengeluarkan sebotol cairan berwarna bening.

Bagian Empat

Malam itu Sersan Wardi mengantarnya pulang. Deni masih merasa galau di hatinya akan kejadian siang tadi. "Pak, kini kita sudah yakin kalau orang itu pelakunya. Tapi bagaimana kalau orang itu mendatangi saya lagi, Pak?" Sersan Wardi menatap ke arahnya, "Jangan khawatir, kami akan menyiapkan enam orang dari regu penyergap untuk memastikan keselamatan Adik. Istirahat saja dahulu, besok kita akan pikirkan apa yang harus kita lakukan."
Deni mendengus dan melangkah keluar dari mobil. Dua pasang mata memandang di kejauhan. Seringainya tajam.

"Kamu sudah gila ya?" Deni menundukkan kepala saat ayahnya mengumpat ke arahnya. Ibunya masih menangis saat memegangi tubuh ayahnya, "Jangan, Pa. Itu bukan salahnya dia." Sang ayah mendengus gusar dan mengumpat lagi, "Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada kamu? Kamu pikir kamu akan selamat? Anak gila!"
Deni mengangkat kepalanya dan berlari menuju kamar. Aku tahu kalau ini memang berbahaya, pikir pemuda itu dalam hati, tapi semua ini sudah terjadi dan aku terlibat langsung di dalamnya. Dengan pikiran kalut Deni membenamkan kepalanya ke dalam bantal.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi. Salah seorang bapak berpakaian preman menguap, "Uaaahhh. Kelihatannya sepi-sepi saja." Bapak lain, yang duduk di sebelahnya terkekeh, "Yah mau gimana lagi, Pak Udin, namanya juga tugas." Bapak yang dipanggil Udin ikut tertawa, "Saya mau kencing dulu."
Udin membuka pintu mobil dan melangkah keluar, melempar rokok di jemarinya ke aspal dan melangkah ke balik sebuah pohon, tepat di depan rumah yang sedang mereka amati.

"Tarjo!" Tarjo menggeliat, rasa kantuknya mendadak sirna saat mendengar rekannya berseru. Cepat dirogohnya senjata di atas dashboard dan bergegas keluar. Dari kejauhan beberapa mobil terlihat menghampiri mereka, "Ada apa, Pak?" Tarjo, yang merupakan pemimpin tim buser itu mengangkat senjatanya sebatas kuping dang berlari miring ke balik pohon, "Celaka!" Suasana langsung menjadi ribut setelah beberapa orang itu melihat tubuh Udin yang bersimbah darah dengan tengkorak kepala yang hancur di bagian belakang. Suara mobil terdengar meraung dari kejauhan. Tarjo langsung bersikap tegas, "Kalian cepat kejar suara mobil itu! Yang lain ikut saya masuk ke dalam rumah."

Tarjo mendobrak pintu rumah dan berlari menuju kamar demi kamar diikuti ketiga anak buahnya. Tangannya menunjuk ke sana dan kemari tanpa suara dan semenit kemudian suara dua pintu didobrak terdengar serentak.
"Pak, di sini!" Tarjo mendengar salah seorang anak buahnya berseru. Bergegas Tarjo menghampiri kamar tersebut dan melihat kedua bapak dan ibu pemilik rumah terlentang di atas tempat tidur. Tarjo mengulurkan jemarinya dan memeriksa denyut nadi kedua tuan rumah tersebut, "Mereka masih hidup!" Tarjo menghela nafas lega dan masih sempat mencium bau menyengat kloroform.

Bagian Lima

Joe melarikan mobil bekas yang baru dibelinya tadi siang secepat mungkin. Bibirnya menyeringai saat ia melirik ke tubuh pemuda yang menggeletak di sampingnya. "Polisi? Hahaha," Joe terkekeh. Benaknya masih mengingat bagaimana tadi polisi yang sedang kencing itu dipukulnya kuat-kuat dengan tuas dongkrak. Hanya sekedar peringatan.
Joe memutar setir mobilnya dan memasuki halaman sebuah supermarket yang buka dua puluh empat jam. Joe menahan nafasnya saat dua buah mobil melaju dengan kecepatan tinggi di belakangnya. Setelah memastikan kedua mobil itu menghilang di kejauhan, Joe memundurkan lagi mobilnya dan meninggalkan areal parkir dengan bibir tersenyum puas. Apa sih susahnya menjebol rumah dengan teknologi jaman sekarang? Dan polisi-polisi itu begitu tolol. Mereka hanya mengawasi pintu depan. Dengan rasa bangga yang berlebihan Joe melajukan mobilnya kembali ke rumah dengan santai.

Bagian Enam

Nungki terbangun dengan badan terasa pegal. Matanya masih terasa perih akibat sisa-sisa air mata yang sudah meninabobokkannya sejak tadi siang. Nungki merasa sekujur tubuhnya lelah, diraihnya surat kabar yang sudah membuat hatinya galau tadi. Nungki kembali membaca kata demi kata di sudut kanan bawah. Benaknya terasa bingung. Apa yang Deni lakukan? mengapa ia bisa ikut terlibat? Siapa di belakang semua ini? Nungki merasa kepalanya pening. Apa yang akan dilakukan Joe pada Deni? Sejenak Nungki mengingat raut wajah Deni yang selalu mengajaknya bercanda di ruang baca. "Ah, Deni," Nungki menghela nafasnya. Sekarang ia harus mencari jalan keluar dari tempat ini.
Nungki memandang ke sekeliling ruangan, dan matanya terhenti pada daun pintu. Aku bisa membukanya, pikir Nungki dalam hati. Sekarang hanya alatnya saja. Nungki mebuka laci meja rias. Hanya ada peniti dan tali nylon. Sambil lalu Nungki mengambil benda-benda itu dan memasukkannya ke dalam saku bajunya. Nungki memandang ke arah bekas nasi goreng yang tumpah tadi siang dan nyaris bersorak girang melihat sendok besi yang tergeletak di atas lantai. Nungki mengambil sendok itu dan mulai sekuat tenaga memutar paku perekat kaki tempat tidur yang memliki lubang di mata pakunya. Beberapa menit kemudian Nungki menyeringai sambil menimang-nimang kaki tempat tidur itu di genggamannya.
Sekarang pintu itu. Nungki meletakkan ujung sendok di engsel pintu dan mulai mendorong engsel itu keluar perlahan-lahan dengan bantuan kaki tempat tidur. Setengah jam kemudian kedua engsel itu sudah terlepas. Nungki menarik gagang pintu sekuat tenaga. Dan pintu itu terjatuh dengan suara berdebum yang nyaring. Nungki menahan nafasnya. Menduga-duga apakah Joe ada di rumah saat itu.
Setelah meyakinkan semuanya sepi-sepi saja, Nungki malangkah keluar. Lorong itu tampak kelam, tidak ada lampu yang menyala. Mendadak Nungki mendengar suara mobil berhenti. "Celaka!" ucap gadis itu lirih. Segera diangkatnya daun pintu dan menarik daun pintu itu seolah tidak pernah terjatuh dari luar. Nungki merasa keringat mulai bercucuran di tubuhnya. Sekarang ia harus mencari tempat sembunyi.
Nungki menelusuri lorong di mana ia berada, melewati kamar mandi dan menemukan sebuah pintu yang sedikit terbuka. Mungkin di sini tempat yang bagus. Nungki membuka pintu dan melangkah masuk. Dua detik kemudian gadis itu memekik melihat gentong berisi potongan-potongan tubuh manusia. Nungki merasa kakinya melemas dan semuanya menjadi begitu gelap.

Bagian Tujuh

Deni terbangun dan merasakan kekakuan menjalari seluruh tubuhnya. Pemuda itu membuka matanya yang terasa berat dan memandang nanar ke arah kegelapan. Mendadak lampu ruangan itu menyala, Deni menyipitkan matanya. Pemuda itu mendengar suara tertawa. Setelah beberapa saat, Deni membuka matanya dan terkesiap ketakutan melihat gentong-gentong kaca yang berisi larutan formalin dan potongan-potongan tubuh manusia. Deni terkejut saat melihat di sudut ruangan seorang gadis, yang tak lain adalah Nungki, tergeletak terlentang di atas sebuah kain putih lebar. Deni mencoba meronta, tapi tali yang mengikat tubuhnya di kursi kayu itu sangat kuat. Pemuda itu mengerang saat seseorang menjambak rambutnya dan menarik kepalanya ke belakang.
"Hey, bagaimana koleksiku? Bagus bukan?"
Deni menggelengkan kepalanya dan orang itu melepaskan jambakannya. Deni merasa seseorang menghembus kupingnya dan suara tawa itu kembali terdengar. Deni berusaha menolehkan kepalanya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat orang yang ia tubruk dua hari yang lalu berada di belakangnya sambil menggenggam sebuah pisau kecil yang berkilat di tangannya.
"Terkejut? Kurasa tidak," orang itu berkata kepadanya, lalu mengitarinya dan menghadapinya. Deni memandang lirikan liar di mata orang itu, "Siapa kamu? Apa semua ini?"
Joe memandang sekelilingnya dan merentangkan kedua tangannya lalu memutar-mutar tubuhnya. "Ini? Ini? Ini adalah prosesi kelahiran kembali malaikat kecilku."
Deni merasa bingung apa yang dimaksudkan oleh orang itu. "Lalu Nungki, gadis itu, untuk apa kamu menculiknya?"
Joe bisa menangkap getaran gusar di mata pemuda itu. Joe tertawa dan mengambil sebuah spet dari atas meja. "Untuk ini." Joe mengambil lagi sebuah ampul dari atas meja, mengetuk-ngetuk ampu itu lalu mematahkannya. Deni melihat bagaimana Joe tersenyum-senyum menusukkan jarum spet itu dan menyedot semua cairan yang ada di dalam ampul.
"Kamu tahu ini?" Joe menyeringai ke arah Deni yang tidak menunjukkan reaksi apapun. Joe melanjutkan, "Ini adalah sejenis amfetamin yang sudah dilarang beredar di pasaran. Kamu tahu mengapa dilarang? Soalnya amfetamin ini adalah pain killer dosis tinggi. Hebatnya, obat ini tidak menyebabkan rasa kantuk bagi yang disuntikkan." Joe merasa bulu kuduknya meremang mendengar penjelasan itu.
"Gila!" pemuda itu memaki kalang kabut, "Apa yang akan kamu lakukan dengan obat itu."
Joe tertawa keras. "Hahaha, kita lihat saja. Kuharap kamu juga menikmati pertunjukan ini." Joe melangkah menuju ke arah tubuh Nungki yang masih tergeletak di sudut ruangan.

"TIDAK!!"

Deni menjerit histeris saat menyaksikan Joe menyuntikkan cairan itu ke pergelangan tangan gadis yang sudah sejak lama disukainya itu. Suara erangan keluar dari bibir gadis itu saat ia terbangun merasakan kenyerian yang merasuki tubuhnya.

Bagian Delapan

Nungki merasakan kenyerian itu menjalar dari tangan ke otaknya. Gadis itu membuka matanya dan melihat Joe sudah berlutut di atasnya. Nungki berusaha menjerit dan meronta, namun tubuhnya terasa lemah dan tangannya yang tergeletak di samping tubuhnya tak bisa bergerak.
"Jangan banyak bergerak, percuma saja, aku sudah memberikan obat bius untuk membuatmu lemas."
Nungki memandang penuh kengerian dan terkesiap saat melihat seorang pemuda terikat di kursi seraya mendelikkan matanya. Nungki berusaha menggerakkan bibirnya memanggil pemuda itu. Tapi tak ada satupun suara yang keluar.
"Jangan berbuat macam-macam padanya!" Nungki mendengar Deni berseru nyaring. Tanpa terasa air mata mengalir ke pipi gadis itu. Nungki berusaha menggerakkan lengannya sedikit demi sedikit, tapi kembali tubuhnya terasa tak mengikuti kehendaknya.
Joe tertawa dan membalik ke arah Nungki, lalu melirik jam di pergelangan tangannya, "Kukira sudah waktunya." Lalu lelaki itu menoleh ke arah Deni dan menyeringai, "Kamu sudah siap?"
Deni melihat joe mengangkat pisau kecil di tangannya dan menusuk ke mata gadis di bawahnya. Deni menjerit sejadi-jadinya.

Bagian Sembilan

Nungki tak tahu apa yang terjadi, mendadak ia merasa sesuatu memasuki kepalanya dan sesuatu terenggut dari tubuhnya. Nungki hanya merasa pandanganya menjadi nanar dan ia bisa mendengar Joe tertawa. "Iblis! Setan!" Nungki mendengar Deni berteriak seperti menangis, sementara gadis itu sendiri tak tahu apa yang tengah terjadi. Dan semuanya terasa jelas ketika ia melihat Joe yang menyeringai di atasnya sambil menggenggam sesuatu yang bulat.

Mataku! Mataku!!!!

Nungki membelalakkan matanya dan ketakutan yang amat sangat menjalar di tubuhnya. Tidak!! Itu mataku!! Air membanjir di pipinya. Nungki melihat Joe memandangnya dan mengangkat pisau kecil itu kembali.
"Kurang satu dan bye bye."
Saraf-saraf Nungki menegang.
Deni menjerit lagi untuk yang kesekian kalinya.

Bagian Sepuluh

Nungki mengayunkan jarum peniti itu sekuat tenaga. Joe berteriak saat matanya kirinya terasa perih. Lelaki itu bangkit berdiri dan mengerang kalang kabut, "Aaaaarrrhhh!!! Ahhkk!!"
Tubuhnya memutar dan kedua tangannya memegangi mata kirinya yang berlumuran darah. Nungki merasa tubuhnya bergetar menyaksikan kengerian di depan matanya. Tubuhnya kembali terasa lemas setelah kekuatan bawah sadarnya membuatnya berhasil merogoh kantung celananya dan menusukkan peniti itu ke mata Joe.
Joe terus mengerang dan memaki. Lelaki itu membuka telapak tangannya dan denga wajah beringas memandang ke arah gadis yang wajahnya juga berlumuran darah di bawahnya. Joe membungkuk dan meraih pisau kecil yang terjatuh dilantai, memandang berang, "Anak anjing! lihat apa yang sudah kaulakukan!! Aku akan membunuhmu." Joe melangkah mendekati Nungki yang tak berdaya.

Deni terkesiap menyaksikan semua itu di depan matanya. Dan kini lelaki itu akan membunuh Nungki. Joe mengerang sekuat tenaga dan menggerakkan kursi yang didudukinya. "Arrrrgggg!!" Kursi itu terjatuh bersama tubuhnya dan menghantam gentong berisi potongan tubuh manusia di sebelahnya.

Segalanya berlangsung amat cepat. Gentong itu menggelinding menumpahkan semua potongan tubuh di dalamnya. Joe membalikkan tubuhnya dan terkesiap saat potongan-potongan tubuh itu berserakan di lantai.
"Tidak! Tidak!" Joe membungkukkan tubuhnya, memunguti semua potongan tubuh di lantai dan melemparkannya ke dalam bathtub. Deni menunggu hingga Joe tepat di depannya lalu menghantamkan kepalanya sekuat tenaga di kaki lelaki itu. Joe mengerang dan terjungkal ke dalam bathtub. Pisau kecil di genggamannya terjatuh ke lantai.

Nungki memandang penuh kengerian dengan sebelah matanya saat gentong itu terjatuh dan Joe tergelincir ke dalam bathtub. Mendadak Joe melangkah keluar dari dalam bathtub dengan wajah mengerikan, berlumuran darah dan cairan formalin yang mengalir dari sudut bibirnya. "Hgggnnn….kubunuh kalian."

Dan itulah kata-kata terakhir dari Joe yang mereka dengar sebelum Joe terjungkal kembali ke dalam bathtub.

Bagian Sebelas

Deni memandangi paramedis yang mengangkut Nungki ke dalam ambulans dengan hati pilu. Gadis itu kini telah kehilangan sebelah matanya. Deni memikir dalam hati apa yang akan dilakukannya setelah semua ini berlalu.

Di dalam, Sersan Wardi menutupi mulutnya dengan saputangan seraya memandang jijik ke arah tubuh Joe yang menelungkup di dalam bathtub. Mata lelaki itu membeliak menyiratkan rasa penasaran. Dan mayat rusak itu. Sersan Wardi membuang wajahnya saat melihat mayat wanita yang sudah setengah membusuk itu seolah merangkul tubuh Joe dengan sebelah tangannya. Dengan rasa mual, Sersan Wardi melangkah ke luar rumah. Tak ingin mengingat apa yang baru saja disaksikannya.

Halaman rumah itu penuh dengan orang-orang yang sibuk membersihkan TKP dan memasang police line. Perlahan sinar matahari mulai tampak menjingga di cakrawala, seolah hendak menyapu bersih semua kenangan buruk di hari setiap orang.

Walau kenangan itu akan tetap ada untuk selamanya.

Bercinta Dengan Ayah Tiriku

Sinopsis: Liana ditinggal pergi papanya sejak ia kecil. Mulai saat itu mamanya sering berganti-ganti pasangan tidur, hingga suatu ketika mamanya mendapatkan jodoh seorang dokter yang baik, lalu menikah dan hidup dalam keluarga harmonis. Semuanya berjalan baik sampai suatu ketika mereka terlibat cinta segitiga.

Sebenarnya aku malu untuk menuliskan pengalamanku ini. Tapi aku ingin suatu saat menumpahkan semuanya. Aku hanya berharap agar perasaan bersalahku berkurang. Pada kesempatan liburan Natal yang lalu aku memutuskan untuk menulis ke situs CeritaSeru ini, untuk bercerita kepada wiro dan kolega, dan berbagi pengalaman.

Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diriku. Mamaku ditinggal oleh papaku sejak aku kecil. Papa asliku adalah serdadu Amerika yang dahulu bertugas di Jerman. Di situlah mereka bertemu (mama adalah suster di pangkalan mereka) hingga aku lahir dan setahun kemudian papa pergi entah kemana. Aku besar di sebuah kota kecil di Perancis selatan dan 5 tahun yang lalu mama dan aku kembali ke Jerman.

Sejak ditinggalkan oleh papa, mama sering berganti ganti pasangan, karena dari dirinya merindukan belain kasih sayang dari seorang pria. Tidak jarang aku mendapati mama sedang bercinta di sofa di ruang tamu dengan pria yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Hal itu pulalah yang membuatku dewasa belum pada saatnya. Aku kehilangan keperawananku pada umur 13 karena aku jatuh cinta dengan pemuda berumur 19 yang bekerja di Mc Donald di dekat rumahku. Biarpun aku sudah rusak tetapi hubunganku dengan mama sangat baik. Dia yang mengajarkan aku bagaimana aku harus manjaga tubuhku, bagaimana caranya memuaskan pria dan sampai bagaiman untuk mengindari kehamilan. Aku sangat mencintai mamaku. Dia adalah idolaku. Aku tau bahwa semua yang dia lakukan demi aku, dan aku selalu berdoa agar mama mendapatkan cintanya yang abadi.

Suatu hari mama mengajakku untuk makan malam. Dia bilang kalau dia mendapat kunjungan. Aku pun senang, karena berharap kunjungan itu dari seorang pria. Dan tebakanku pun benar. Frank seorang dokter muda yang cakap, tinggi tegap, berambut coklat tua dan tidak botak. Dia terhitung tampan dibanding dokter-dokter yang kukenal. Dia sangat ramah dan baik hati. Aku sangat menyukai Frank, demikian pula mamaku. Setengah tahun kemudian mereka pun menikah, dan aku masih ingat aliran air mata kebahagiaan mama. Di saat itu aku merasa bahwa doaku terkabulkan.

Hidup kami berubah dengan kehadiran seorang pria di keluarga kami. Aku tidak perlu lagi mengganti lampu yang rusak, atau memperbaiki saluran air yang mampet. Bahkan tingkat ekonomi kami pun meningkat drastis. Kini kami tinggal di rumah Frank yang cukup besar dan mewah untuk kami. Bahkan di ulang tahunku yang ke 18 dia membelikan sebuah mobil baru yang sebelumnya hanya ada di mimpi-mimpiku. Tidak hanya itu, tapi bertambah seringnya erangan nikmat yang setiap malam kudengar. Wajah mama sangat berseri-seri setiap pagi begitu juga Frank. Sampai terjadinya suatu peristiwa.

Aku masih ingat sekali peristiwa malam hari itu, Jumat tanggal 25 agustus 2000. Mama sedang pergi bersama teman-temannya selama akhir minggu. Frank hari itu mendapat undangan pesta bujang seorang temannya yang hendak menikah keesokan harinya. Aku sebagai remaja menikmati akhir minggu di diskotik hingga larut malam. Sepulang dari disko aku merasa lelah dan mabuk. Setiba di rumah aku langsung berendam air hangat di bath up, sambil menikmati musik di tengah remang-remang nyala lilin.
Tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka dengan cepat dan masuk Frank. Dia langsung menuju ke keran air dan membasahi kepalanya. Dia tidak sadar bahwa ada seorang gadis telanjang yang tergeletak di sebelahnya. Setelah dia agak tenang dia menegakkan kepalanya, dan dia menoleh ke arahku. Aku melihat adanya rasa kaget di matanya disamping rasa kagum. Dia hanya terdiam memaku memandangku. Ketika dia mencoba melangkah keluar aku pun memanggilnya, ”Frank kenapa kau tidak duduk di sini dan biarkan kita sedikit bercakap-cakap.”
Frank hanya diam sambil memunggungiku, kemudian dia pun kembali melangkah ke arahku dan duduk di tepi bath up.
Entah siapa yang memulai, tiba-tiba dia sudah bersamaku di bath up. Kami saling mengusap, saling membelai, saling mencium dan saling menggoda. Aku sadar bahwa alkohol mampunyai peranan penting di sini, tapi aku merasakan sensasi yang belum pernah aku alami. Getaran dan perasaan melayang yang belum pernah aku alami bersama puluhan pria lainnya. Frank dengan lembut menciumi tengkukku sambil dia mengangkat rambutku yang basah. Aku sangat menikmati jilatan lidahnya sambil mendesah nikmat. Frank berbisik, ”Nana, kau sangat cantik. Tubuhmu mengagumkan hmm,...” Aku hanya diam mendesah. Tanganku yang sudah terampil sudah mencari mangsa. Langsung kubelai penisnya yang sudah tegang. Aku pun berbalik menghadapnya dan langsung mulai menjilati dadanya yang bidang, lalu turun ke perut dan langsung ke tujuan utama. Aku jilat pelan-pelan, aku hisap ujungnya, bijinya dan kemudian aku memasukkan semua batang kejantanan ayah tiriku ke mulutku. Mungkin ini yang disebut kenikmatan oleh pria, karena didikan mamaku aku mengerti apa yang selalu diinginkan oleh seorang pria. Lidahku menari-nari menjilati penisnya. Saat itu aku hanya mendengar gerangan nikmat dari mulut Frank, sembari kubelai-belai pangkal pahanya. Tiba-tiba dia mencengkeram tanganku dan langsung mengangkatku ke atas dadanya. Bibirnya mencari bibirku, hingga akhirnya bibir kami bertautan, saling panggut dan saling gigit. Tangannya beraksi di vaginaku, mencari titik lemah wanita, dan ohhh,... inilah yang dinamakan profi. Dia sebagai dokter mengenal setiap titik kelemahan seorang wanita. Dia meletakkan tubuhku di bagian pinggir bath up dan mengangkat kedua pahaku ke arah bahunya. Dia mencari vaginaku dengan mulutnya dan lidahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya merasakan ringan, melayang dan betapa tubuhku bergetar hebat. Merasakan bahwa tubuhku bergetar tidak ada hentinya, frank pun berdiri, keluar dari bath up mengambil handuk dan mengangkat tubuhku serta melilit tubuhku dengan handuk. Setelah dia pun mengeringkan tubuhnya seadanya, dia mengangkat tubuhku menuju ke kamar tidurnya. Di ranjang di mana dia biasa bercinta dengan mamaku tubuhku diletakkan, dan handuk itu mulai dibuka pelan-pelan. Dasar Frank yang penuh selera humor, dia masih sempat bercanda, “ wuah seperti membuka kado natal saja rasanya!“ Aku pun sempat tertawa sebelum mulutku disumbat oleh mulutnya.
Dia meneruskan apa yang sudah dia mulai. Dia mulai menjilati buah dadaku. Setiap bagian tubuh yang sensitif dia jilati. Hingga dia sampai ke ujung kaki, dia menjilati setiap jari kakiku, telapak kakinya dan lalu membuka lebar selangkanganku. Dia maju ke depan pelan-pelan, agak merebahkan dirinya di dadaku, sambil mendengarkan napasku yang terengah-engah. Tangannya membelai rambutku yang masih basah. Tiba-tiba sesuatu yang keras menusuk bagian vaginaku, hanya ujungnya saja, dia melakukan dengan sangat lembut. Sambil menjilati dan menggigiti putingku dia berhasil memasukan seluruh penisnya ke vaginaku. Beberapa saat kemudian dia agak berdiri dan mengangkat kedua kakiku ke arah wajahnya sambil terus memompa. Aku merasakan hanya kenikmatan, mungkin dari segi ukuran penis dia tidak terlalu besar. Tapi bagiku ukuran tidak jadi soal, yang penting bagaimana cara dia untuk mempergunakannya. Frank sangat jago bercinta. Pada saat itu tidak banyak gaya yang kita coba. Karena kenikmatan yang kita peroleh lebih penting daripada eksperimen. Aku coba menikmati setiap detik yang kita lalu bersama.
Ada perasaan menyesal ketika semua itu berakhir, perasaan menyesal telah mengkhianati mama dan perasaan menyesal bahwa semua itu telah selesai. Ingin rasanya kami mulai dari awal lagi, menikmati setiap detik dan setiap sentuhan.
Frank hanya diam memelukku, membiarkan kepalaku di dadanya dan sembari mengecup-ngecup keningku dengan lembut.
Oh mama, malu rasanya ketika aku bertemu mama. Mama yang selalu sayang kepadaku, yang selalu perhatian akan diriku. Tapi di sisi lain aku merasa sangat cemburu bila melihat mama bermesra mesraan dengan Frank, perasaan benci melihat mama yang memeluk Frank. Aku selalu menangis apabila aku mendengar desahan mama di saat mereka bercinta di malam hari, aku selalu membuang muka apabila Frank pulang dari kerja dan membawakan mama setangkai rose.
Setelah kejadian malam itu, aku dan Franks selalu berusaha untuk mencari kesempatan untuk berduaan. Mama sering bertugas jaga malam, dan itu kesempatan kami untuk terus mengulanginya. Sering kami melakukannya di mobil, di gudang ataupun di teras belakang rumah. Sudah hampir 1,5 tahun kami saling sembunyi, tapi baru awal tahun 2002 yang lalu aku berani mengatakan cinta kepada Frank. Dia hanya merengek dan menangis. Dia tidak bisa melepaskan mama karena mama bagi Frank adalah sosok istri yang ideal. Sedangkan diriku membuat Frank merasa muda, bergairah dan bersemangat hidup kembali.
Kami berdua tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Haruskah kami bersandiwara seumur hidup? Atau haruskah kami merusak segala mimpi mama?
Di saat ini aku kembali bertanya, benarkah Tuhan sudah menjawab doaku?

Kisah Sial

KETIKA KEJADIAN UMUR SAYA 19 TAHUN. KETIKA ITU SAYA MENETAP DI LONDON KERANA MENGIKUTI KELUARGA KERANA BAPA SAYA BEKERJA DI SANA SELAMA 3 TAHUN.

DI BELAKANG RUMAH SAYA ADA HUTAN REKREASI DAN WAKTU MALAM RAMAI PARA REMAJA BERCUMBUAN DAN ADA YANG BERLEBIHAN. PADA TIAP MALAM SAYA AKAN PERGI MENGENDAP ORANG BERCUMBUANDAN KADANG KALA SEHINGGA BASAH CIPAP SAYA COS TERANSANG.

SEHINGGA SATU HARI, SEDANG MENGENDAP, SAYA TERASA SESUATU MERABA PUNGGUNG SAYA. ALANGKAH TERPERANJAT. BILA SAYA MENOLEH SAYA MELIHAT SEORANG LELAKI YANG TIDAK DIKENALI SUDAH SEPARUH BOGEL SAMBIL TANGANNYA MERABA PUNGGUNG SAYA.APABILA SAYA CUBA MELARIKAN DIRI CEPAT2 DIA MERENTAP MINI SKIRT. SAYA BERHENTI KERANA MALU UNTUK TERUS MELARIKAN DIRI TANPA KAIN. TERUS LELAKI ITU MENDEKATI SAYA DAN MENGUGUT SAYA UNTUK MELAKUKAN ADEGAN YANG SAYA LIHAT SEBENTAR TADI. DALAM KETERPAKSAAN SAYA MERELAKANNYA.

SEGALI GUS DIA MENGELUARKAN BTG YANG LEMBIK MACAM GETAH PAIP DAN MENGGESELKANNYA KE CELAHAN PEHA SAYA. SAYA MULA RASA ENAK DAN MERANGSANGNYA UNTUK MEMASUKKAN BATANGNYA YANG SUDAH MENGERAS DAN PANJANG LEBIH KURANG 9 INCI. TETAPI APA YANG SAYA TUNGGU TIDAK DILAKUKAN. DIA MEMBELEK TUBUH SAYA DAN MEMASUKAN TANGANNYA KEDALAM T-SHIRT DAN BALIK BRA YANG SAYA PAKAI DAN TERUS MERAMAS. SAYA MENGERANG TETAPI MUNGKIN DERANGAN SAYA MEMBUAT DIA LEBIH BERNAFSU. SETELAH 5 MINIT DIA BEHENTI. SAYA FIKIR MUNGKIN SUDAH TAMAT. SAYA MELIHAT TUBUH SAYA DAN TERPERANJAT KERANA SAYA SUDAH DALAM KEADAAN BOGEL. SAYA CUBA MENCARI PAKAIAN SAYA TETAPI TIADA. LELAKI ITU MUNCUL SEMULA DAN MEMBAWA RANTING YANG BERDIAMETER 5 CM. DIA TERUS MENUSUK KEDALAM CIPAP SAYA. SAYA MENJERIT SEKUATNYA. AMAT PERIT SEKALI TUSUKANNYA YANG MASUK KIRA KIRA 14 CM. DENGAN LAJUNYA DENGAN MENGHAYUN RANTING ITU. SELEPAS MBEBERAPA KETIKA, DIA BERHENTI KEMUDIAN MEMBERI PAKAIAN SAYA KEMBALI. SAYA TERUS MEMAKAINYA DAN KEMBALI KE RUMAH.

TIBA DIRUMAH, PEKEBUN YANG BERBANGSA INGGERIS BERTANYA MENGAPA KAIN MINI SKIRT SAYA BERTANDA SEPERTI DI RENTAP. SAYA KATA JATUH SEMASA JALAN DI TMN. TADI. TERUS SAYA MASUK KE RUMAH MENGIKUT PINTU BELAKANG DAN TERUS KE BILIK DAN TUKAR PAKAIAN.

KETIKA MENUKAR PAKAIAN SAYA MEMBELEK CIPAP SAYA DAN KELIHATAN CEBISAN KULIT KAYU DAN KESAN DARAH. SAYA PERGI KE BILIK MANDI DAN MEMBASUH. MENJERIT SAYA BILA MENCURAHKAN AIR DI CIPAP. CEPAT2 SAYA KESAT DAN LIHAT KESAN MELECET DI BIBIR CIPAP SAYA.

SAYA TIDAK SENANG UNTUK MELAKUKAN APA2 KERANA TERASA SAKIT WALAUPUN BERJALAN KEKADANG TERBERHENTI KERANA KESAN MELECET YANG BERGESER DENGAN SELUAR DALAM....

SEMENJAK HARI ITU SAYA TIDAK BERANI UNTUK MENGENDAP DI TMN. ITU

Gairah Istri Tercinta

Aku seorang suami umur 39 tahun dan istriku berumur 40 tahun. Kami mempunyai anak 2 orang, 1 perempuan dan satu laki-laki. Walaupun kami sudah berumur tapi kehidupan sex kami sangat memuaskan.

Kami selalu berhubungan sex. Istrku memang berumur 40 tahun tapi bodynya tanggung sexy dan terawat masih kelihatan seperti umur 30 tahun.

Aku berpikir untuk memberikan sesuatu yang lain kepada istriku, yaitu aku ingin
kami bercinta dengan satu orang lain, bertiga. Dan ini aku sampaikan kepada istriku sebut saja namanya Rina. Namaku sendiri Ricky. Pertama-tama Rina tidak setuju, tetapi setelah ku bujuk-bujuk kukatakan.
"Mah, ini kita lakukan untuk happy kita saja sayang".
"Yah, pah tapikan saya malu bercinta dengan orang yang belum pernah saya kenal".
"OK, sayang lupakan semua, yang penting saat itu kita mencapai kepuasan. Bagaimana sayang?", setelah kubujuk akhirnya Rina setuju.
"Terserah papah ajalah."
Aku lalu mencium istrku, dan malam itu kami bercinta dan kami melakukannya sampai pagi.

Waktu berjalan terus, sementara aku terus mencari orang yang cocok untuk kami aja bergabung. Suatu hari aku berkenalan dengan seorang guru instruktur senam di kota kami. Namanya Herman. Orangnya ganteng umurnya masih 26 tahun badanya pun sangat atletis. Beberapa kali pertemuan aku menyampaikan apa rencana kami kepada Herman, dan kulihat dia tidak terkejut.
"Biasa Mas, aku pernah melakukan ini dengan pasangan lain," cerita herman. Oh aku sangat senag sekali, ternyata Herman sangat berpengalaman. Maka kami ataur rencana, Ini akan kami lakukan disalah satu hotel terkenal dikota kami.

Hari Sabtu siang Rina dan aku ngobrol berdua diruang tamu.
"Mah, aku kok rasanya kepengen kita tidur dihotel berdua saja malam ini", Rina menyambut dengan hangat.
"Boleh juga tuh Mas, hitung-hitung bulan madu," katanya.

Kami sepakat memilih Hotel "S" untuk menginap nanti malam.
Sesampai dihotel setelah menyelesaikan administrasi hotel, lalu kami masuk kamar hotel. Rina langsung rebahan diatas tempat tidur yang cukup besar. Sedangkan aku masuk kedalam kamar mandi untuk menelpon Herman, dan kami beri tahu nomor kamar dan jam berapa dia harus datang.

Didalam kamar aku dan Rina ngobrol dan sekali sekali kami berciuman, Aku meremas payudara Rina dari balik bajunya sambil terus menciumi leher jenjangnya. Rina mendesah, "aaahh... mas....." sambil berciuman tanganku masuk kebalik baju yang dipakainya.
"Mas?...... aku mau Mas...!" Rok yaand dipakai Rina sudah naik sampai memperlihatkan paha Rina yan mulus dan putih, Dan tanganku mengelus-elus lembut memek Rina dari balik celana dalamnya dan aku merasakan cairan kemaluan istriku sudah mulai keluar... yah... oh.... terus Mas..... yahhh... atatasnya sayang..."

Tiba2 pintu diketuk dari luar. Kami buru2 merapihkan pakain kami, biasa Rina sambil ngomel,"siapa sih, ngegangu aja?"
Aku membuka pintu, Herman sudah didepan pintu dengan kaos ktetnya memperlihatkan tubuhnya yang atletis.
"Siappa pah?" tanya istrku dari dalam.
"Ini kenalkan teman papah, tadi telpon kebetulan dia ada di hotel ini, jadi papah suruh mampir saja."
"Ini Rina istriku,"
"Aku Herman mbak," sambil menyalami istriku.

Istriku banyak diam, mungkin kesel karena nanggung tadi. Sambil memeluk Rina aku berkata kepada Rina.
"Mah, Herman ini yang akan bergabung dengan kita untuk bercinta. Rina sedikit kaget, tapi setelah kutenangkan dia dapat menerimanya. Sambil ngobrol sekali-kali aku mencium Rina, pertama-tama Rina sanagt risih, tapi lama lama aku dapat merasakan Rina mulai terbiasa, malah membalas ciuman aku. Herman tersenyum melihat kami berciuman. Aku melihat istriku melirik Herman pada saat kami berciuman. Hernan masih duduk disofa sementara kami duduk dipinggir tempat tidur berpelukan menghadap kesofa dimana Herman duduk. Samil berciuman aku meraba-raba paha mulus istriku. Dan Rina melebarkan kakinya sehingga Herman dapat dengan jelas melihat paha bagian dalam Istriku dan celana dalam Rina. Herman berdiri menghampiri kami dan jongkok didepan kami. Sementara aku dan Rina terus berciuman dan pelan aku membuka satu persatu kancing kemeja Rina, dan terbukalah dadanya dengan BRa warna hitamnya. Tiba-tiba Rina tersentak, Rupanya Herman menciumi paha istriku, Rina menegang jilatan Herman terus merambat keatas menyentuh celana dalam istriku. Sementara aku sudah melepas beha Rina dan menciumi sambil menjilati puting teteknya.
"ooooohhh..... yahhhhhh... enak enak Her......jilati memek mbak Her...???" MUlut istriku terus merengek-rengek meminta Herman untuk menjilat memeknya. Aku merebahkan Rina ditempat tidur sementara kakinya masih menjuntai kebawah dan Herman terus menjilat dan menciumi selangkangan istriku. Rina melebarkan kakinya dan meminta Herman untuk membuka celana dalamnya.
"Iyah.... terus Her.... buka celana dalam Mbak.... jilati memek mbak oooohh.... Mbak mau kontol mu......."
Herman lalu membuka celana dalam Rina..... dan kelihatanlah memek istriku dengan bulu yang rapih terawat dan berkilat, menandakan Rina sudah sangat terangsang.

Istriku sekarang sudah telanjang didepan dua laki-laki yang siap untu memberikan kepuasan kepadanya. Rina tergolek pasrah sementara kakinya tetap menapak di lantai sehingga memeknya menjadi lebih kelihat menonjol keatas. Herman berdiri lalu membuka kaosnya, kelihatan dadanya yang bidang ditumbuhi bulu, Istriku memeandang nanar, Herman juga membuka celana panjangnya. Otomatis Herman hanya memakai celana dalam saja, dan kontolnya yang belum tegang menonjol dan kelihatan jelas dimata istriku. Dan Rina terus melihat kebawah. Sambil berkata "Her...?Mbak mau kontol kamu! Puaskan Mbak Her........" Rina Bangkit dari tempat tidur lalu jongkok didepan Herman.

Istriku menciumi kontol Herman dengan bernapsu..... lalu Rina menurunkan celana dalam Herman, maka kelihatanlah kontol Herman begitu dekatnya denga muka Istriku. Rina menjilati kontol Herman mulai dari pangkal sampai ujungnya. Terus berulang-ulang.
"ohhhhh.... enak Mbak .... enak sekali lidah kamu Mbak.." erang Herman. Istriku memasukan kontol Herman kedalam mulutnya berulang kali.
"Ahhhhh enak..... sekali Mbak" sambil tangan Rina mengocok-ngocok kontol Herman. Lalu Herman menngajak Rina berdiri. Lalu mereka berciuman sambil berdiri shhhhh...suara ciuman mereka sampai kekupingku aku terpancing, lalu menghampiri mereka. sambil jongkok dibelakang Rina, aku menciumi pantat rina sambil tanggan ku meraba-raba memek sitriku yang sudah basah.... merekaterus berpelukan sambil berciumana sementara aku menciumu pantat istriku..........

Tiba-tiba rina istriku menungging mengapai kembali kontol Herman dan dimasukannya kedalam mulut "acchhhhhh, Herman mengerang.... sementara aku menjilati memek Rina dari belaakng, sekali jari-jariku keluar masukan kedalam memek RIna.
"yahhhhh... terus Mas... masukkan jarinya Mas... Rin... ga tahan...... terus... yang dalam......... Entot saya.... her..... Mbak Mau kontolmu... masukkan kontol kamu kedalam memek MBak..... aaaccchhh... ssssssssshhhh.."

Kami berganti posisi. Aku rebahan di kasur sementara istriku menungging sambil menjilati kontol ku..... dari belakang Herman sudah siap-siap memasukan kontolnya yang sudah tegang kedalam memek istriku. Heramn mengosok-gosokan kontolnya kebelahan memek istriku.
"yahhh.... masukan Her... Mbak sudah ga kuat....... entot Mbak Her... Puaskan Mbak....." pelan kepala kontol Herman mulai masuk kedalam memek Rina ....,
"sssshhhh..." Rina menegang ketika kontol Herman yang sudah tegang pelan-pelan masuk kedalam memeknya istriku. Herman berhenti sebentar, lalu pelan kembali menekan kontolnya masuk kedalam memek Rina kembali .Tubuh istriku bergetar.... ssshhhhh..... ohhhhhh... enak sekali her..... masukan terus yang dalam oooohhhhh hangat.... kontolmu hangat sekali Her........"
"yahhh...Mbak ?...memekmupun berdenyut Mbakk....." herman pelan menarik keluar kontolnya dan memasukannya kembali.
"Accchhhhh..... terus Her... yang kuat terus..... entot Mbak...... siram rahim Mbak dengan mani kamu....." Herman semakin memaju kontolnya dan semakain cepat...... mbakkk.... mau keluar Her......... oh... mBak ga tahan.... Mbak ga tahan......." istriku menggelepar-gelepar.
"Oohhhh... acccchhhh..... saya keluar.... saya keluar..... ahhhhhhhhhhhhhh........." istriku menegang, sementara Herman terus memaju kontolnya keluar masuk memek istriku. Istriku RIna tengkurap ditempaat tidur nafasnya memburu, sementara Herman tetap diatas tubuh Rina dan membiarkan kontolnya tetp tertancap didalam memek istriku sambil merasakan denyutan memek Rina meremas remas kontolnya. Lalu pelan pelan Herman mencabut kontolnya dan kembali memasukannya. Rina tersentak, "ohhh.... enak sekali kontolmu Her... ohhhh... terus... Her.... Mbak mau Lagi...... Mbak mau kontol mu lagi........... Mbak mau di entot berdiri..... Ayo..... Mas entot saya.... puaskan saya......... Rina mau kontol kalian berdua...."

Rina berdiri di peluk Herman dari belakang sementara aku jongkok menjilati memek Istriku yang sudah sanagt basah, sambil menjilati memek nya jariku masukan kedalam.
"Yaahhhh enak Mas... terus jilati memek Rin......" Herman dan Rina berciuman.... sementara aku terus menjilati memek Rina. Kontolku semakin menegang aku sudah ga tahan, lalu aku melebarkan kaki Rina sambil berdiri aku memasukkan kontolku kedalam memeknya. Berdiri adalah posisi favorit istriku. Aku memutar-mutar pantataku sehingga jembutku bergesekan dengan itil bagi atas istriku.
"Oohhhh yyahhhhh.... kena mas... gesek-gesek terus... oohhhhh enak mas..... kontolnya..... ayoh Mas kita keluarkan sama-sama....... rina hampir.... achhhhh..."

Rina terus mengoyang-goyangkan pantatnya sambil berciuman dengan Herman sementara aku terus memacu kontolku semakin cepat. Herman terus meremas-remas tetek Istriku.

"Aachhhhhh.... oohhh.. aku keluar mas....... mbak keluar lagi Her...... ohh enakks..." Seeerrrr. Aku ikut menegang dan Crottttt......... kami berdua keluar bersama-sama.
"Ohhhhhh...." istriku terkulai dipelukan Herman.
"Achhhh.. ohhh.." aku mencabut kontolku dari memek Rina, sementara Rina masih terkulai dipelukan Herman. Kedua tangan Rina merangkul lehar Herman. Kontol Herman masih sangat tegang karena memang dia belum keluar,
"Sambil berbisik... Mbak aku mau entot mbak... aku belum keluar... ahhh. Apa masih kuat mbak...?" tetap merangkul Herman lalu istriku mencium bibir Herman, sambil bergayut dia melingkarkan kakinya kepinggang Herman.
"Blessssss...." masuklah kembali kontol Herman kedalam memek Istriku, sambil berdiri mereka berpacu mencapai puncak kenikmatan.
"Yahhhhh.... enak kontolmu Her..... terus masukan yang dalam... kontolmu hangat...... puaskan mbak" mereka berpacu semakin cepat.
"Her mbak gak kuat mau keluar lagi..... achhhhhh......"
"Iyah mbak aku juga mau oooohohhhh... achhhhhh... terus... mbak keluar..... ohhhhhhh crooottttachhhhhhh".
Kedua tubuh itu menegang dan berpelukan sangat eratnya.
Kami sangat puas sekali.

Sejarah aku dan Ana

Cerita nih ada cerita pertama kali aku melakukan hubungan seks dengan perempuan.

Nama aku adalah zul (bukan nama sebenar) .aku adalah seorang pelajar ipt dalam negeri dan masih lagi belajar di ipt tersebut. Ana ada seorang gadis dari pantai timur yang mengambil jurusan yang sama dengan aku. Ana adalah seorang gadis yang cantik (cina + melayu) dan mempunyai tubuh badan yang menarik dan satu benda yang buat aku suka kat dia adalah tetek ana. Ana mempunyai tetek yang besar jika nak dibandingkan dengan tubuhnya yang kecil.

Aku mula minat terhadap ana adalah ketika mula-mula mendaftarkan diri di ipt dan kebetulan semasa berbaris waktu mendaftar, ana berada didepanku dan pada ketika itulah aku mula memandang ana dari atas hingga kebawah walaupun dari belakang.Ana memakai baju kebaya ketat pada ketika itu sehingga menampakkan bentuk badannyer yang seksi. Aku mula ghairah bila aku memandang ana dan sejak itu aku mula membayangkan betapa bagus nya dan nikmat jika aku dapat memiliki ana dan melakukan hubungan seks.

Pada satu hari, kami telah ditugaskan untuk membuat satu assigment berkaitan dengan jurusan yang kami pilih. Dalam satu kumpulan mempunyai 3 orang dan aku satu kumpulan dengan ana. Sebelum pergi menyiapkan assignment, aku telah mengajak ana berjumpa dengan alasan untuk membincangkan assignment yang diberikan tanpa pengetahuan sorang lagi rakanku.

‘ana malam nih kita jumpa kat kelas boleh tak.????’

"nak buat apa..??".tanya ana.

"takder ler .aku ingat nak bincang dengan kau sebelum kita keluar buat assignment nih"

"kalau macam tu ok…pukul 9 malam nih……boleh..??"

"ok gak tuu"

aku sengaja mengajak ana untuk berjumpa dengan aku kat kelas. Ini kerana kelas aku berada dihujung sekali dan tempat dia pun sunyi sikit dan orang pun tak ramai yang lalu.
Tepat pada pukul 8.50 malam aku menunggu ana dikelas dan aku sampai awal pada ketika itu dan aku mula ghairah membayangkan ana yang mempunyai bentuk badan yang menarik itu dan tanpa ku sedari aku mula memegang adikku yang mula bertindakbalas.

Tepat pukul 9 ana pun sampai dan aku mula terpegun melihat ana dengan baju t-shirt ketat sehingga menampakkan kedua belah teteknya yang besar dan memakai seluar track suit. Di muka pintu ana tersengeh melihat gelagat ku yang terpegun melihat dia. Aku mengajak ana duduk di satu meja kecil dan saling mengadap untuk memulakan perbicangan kami, dan sekali lagi aku terkejut apabila ana aku melihat ana sebenarnya tidak memakai coli sehingga menampakkan kedua-dua putingnyer yang terjojol.

Walaupun begitu aku masih mendiamkan diri lagi. Lebih kurang 10 minit kami berbincang, ana menyedari yang aku sering memandang teteknyer yang besar itu kerana aku begitu asyik memandang tetek ana tanpa mempedulikkan apa yang dibincang kan.

"zul…kau dengar tak apa yang aku cakap tadi..???"

"Errrkkk……errrr dengar….aku dengar…."

"Dah tu pesal kau senyap jer…??’tanya ana.

"ana,,,kau tak pakai coli ker..???tanya aku

"a`ah…tak pakai kenapa kau tanya.."jawab ana selamba.

Dan tanpa aku sedari aku menarik tangan ana kemeja yang lebih besar dan aku yang dah mula ghairah mencium bibir ana dan ana pun membalas dengan ciuman yang lebih kuat sedikit sambil mengulum lidah ku. Pada masa yang sama tangan aku mula mencari sasaran, dan sasaran ku yang pertama adalah tetek ana. Sudah begitu lama aku idamkan dan baru kini aku dapat, aku meramas-ramas tetek ana yang besar dan mula menegang itu itu dengan semahu-mahunya. Aku mula menanggalkan baju yan ana pakai. Aku menatap puas-puas gunung semanggul ana sambil menggentel-gentel susunya yang pink kemerahan. ana mulai mendengus perlahan.Aku pun menyedut dan menjilat puting ana dengan rakus tetapi perlahan. Teasing kata omputeh. Tangan aku menjalar ke bawah dan menyelak seluar yang ana pakai. Seluar dalam dia dah banjir. Aku gosok cipap ana dari luar sambil menggigit-gigit putingnya. ana makin kuat mendengus. Nafasnya jadi pantas. Aku tak buang masa terus menanggalkan ape yang ada pada tubuh ana. Akhirnya, cipap ana terhidang depan mata aku. Fresh lagi. ana baru cukur pagi tadi. Aku menggosok bibir cipap ana yang berkilat dek air cipapnya. Terus aku attack cipap dia yang botak tu, menjilat, menyedut, menggentel dan mempraktikkan apa saja yang aku pernah tonton dalam cerita blue.ana menggenggam dan menarik rambut aku.

tiba-tiba,ana mengerang begitu kuat sekali dan dia menggelepar macam singa mati
anak. Dia nak sampai! Aku memperhebatkan lagi mainan lidah dan sedutan aku makin kuat dan......... AAHHHH!!!!!!!!!!!!!!................... ku dihadiahkan limpahan air cipap yang agak pekat, macam air paip ana ni kalau dia cum. Aku menelan segala yang dapat aku minum dan telan. Emmm......yummy! Best! Ana terkulai....dadanya masih berombak. Aku mencium ana di pipi dan di balas ana dengan satu french kiss yang lemah......

Dan setelah lebih kurang 4 kali ana klimaks…aku mula menepatkan sasaran batangku ke cipap ana…ana kembali mengerang dan kali ini lebih kuat lagi..maklum ler ana nih still virgin dan aku pun menujahkan batang ku kecipap ana. Ana mengerang kesakitan..ARRghhhhh!!…zul…sakit sayang…jangan ler kuat sangat..ana mula merayu…..rilek sweet heart…sakit sikit jer…..dan aku mula menolak batangku kedalam cipap ana….argghh…..sedap nyer…..masih ketat lagi dan panas…lama kelamaan..cipap ana lebih banyak mengeluarkan air dan ber tambah licin lagi aku berdayung……

Dalam pada masa yang sama aku menyuruh ana kemut dengan lebih kuat…
i teruskan tikaman i sampai semua 14cm masuk dalam lubang ana. pantat ana cukup nikmat dan panas.

fuck me! fuck me! ana mendesah...aku pun apalagi terus lakukan sorong
tarik....ahhh..ahhhh....urghhhh...i mula mendesah. our bodies are
interlocked and we reach to a timely rythm....fuck me!! give me!!!! ana terus
meminta...ana pun makin semangat dan my movement makin cepat...oh my god!!!
aku pikir aku dah tak boleh tahan!! i'm coming! i'm coming! here it
is!!!....urghhh!!!!....crittt! crittt! crit!!! i pancutkan my cum dalam
pantat ana and ana pun capai klimaks at the same time.
my god!! aku tak penah rasa orgasm macam tu... sampai lima belas pancutan!!!!. aku keluarkan konek aku yang di lumuri cairan mani aku dan ana. aku baring dan ana terus kiss aku dan menjilat jilat konek aku sampai clean..fuuhhh gerek punya
awek!!!.

Selepas 1 jam kami berehat jemari halus ana terus melurut batangku perlahan lahan. Dari atas sehingga kepangkal. Aku sedikit kegelian. batangku mula menegang dan membesar. Terasa begitu nikmat sekali apabila ana melakukan urutan istimewa ke atas batangku. Sesekali bibir ana mencium pipiku, dan ada ketikanya kami berkuluman lidah.Sementara tangannya terus memainkan peranan ke atas batangku.

Aku merehatkan diri dan memejamkan mata, menghayati usapan yang dilakukan.
Lidah ana mula menjelajah ke cuping telingaku. "Ah.... begitu mengasyikkan
sekali" ana mengulum cuping telingaku dan memainkan dengan hujung
lidahnya. Terasa bahang kepanasan dari mulutnya. batangku berdenyut-denyut apatah lagi bila ana memuji zakarku yang mula mengembang dan panas.Air mani yang keluar melicinkan lagi pergerakkan genggaman jemari ana ke atas batangku dan ana terus melancapkan batangku sehingga aku sampai kekemuncak.

Begitu ler pengalaman ku ketika mula-mula melakukan hubungan seks dengan ana dan satu pengalaman yang tak akan aku lupakan.

Ditulis oleh: Timmermans

Toilet Kampus

Kejadian yg saya ceritakan kali ini betul-betul pengalaman seksku yg pertama kali dan sangat berkesan. Kejadiannya sangat di luar dugaan; terjadi secara spontan. Aku selalu merenung tiap kali mengenang kejadian itu, apakan anugerah atau awal dari kebejatanku? Entahlah, aku bingung utk menjawabnya.

Aku mahasiswa semester 7 di sebuah universitas di Jakarta Barat. Umurku 21 tahun. Aku tergolong anak yg biasa-biasa saja di lingkungan pergaulan kampus. Dibilang kuper tidak, tapi dibilang anak gaul pun tidak. Aku anak bungsu dari dua bersaudara, berasal dari keluarga kelas menengah atas. Di kampus aku dianggap oleh teman-temanku sebagai anak yg pendiam. Aku agak kesulitan bergaul dengan perempuan, sehingga aku sama sekali tidak memiliki teman perempuan. Entahlah, sepertinya aku mempunyai masalah dalam soal mendekati cewek. Namun ironisnya, aku mempunyai hasrat seks yg tinggi, aku mudah terangsang bila melihat cewek yg bagiku menarik, apalagi memakai pakaian ketat. Jujur saja, bila sudah begitu pikiranku sering mengkhayal ke arah persetubuhan. Bila hasratku sudah tak lagi dapat kutahan, terpaksa aku melakukan onani. Aku memilih itu sebab aku tak tahu lagi harus menyalurkan kemana.

Sifat pendiamku ternyata membuat cewek-cewek di kampusku penasaran, sepertinya mereka ingin tahu lebih banyak tentangku. Cuma mereka harus kecewa sebab aku kesulitan utk bergaul dgn mereka. Di samping itu teman-temanku bilang aku mempunyai face yg lumayan ganteng (nggak nyombong lo), kulitku putih, rambutku gondrong, dan tinggiku sekitar 170 cm. Bila aku melintas di koridor kampus, aku merasa ada beberapa cewek yg melirikku, tetapi aku berusaha cuek saja, toh aku tak bisa mendekatinya. Namun ada seorang cewek yg diam-diam menyukaiku, hal itu aku ketahui dari sahabatku. Ketika aku minta utk menunjukkan anaknya, kebetulan penampilannya sesuai dengan seleraku. Tinggi tubuhnya sama denganku, rambut panjang, kulit putih bersih, wajah menarik, ukuran toketnya juga pas dengan seleraku, dan badannya padat berisi. Sebut saja namanya Ella (samaran). Sejak itu setiap kali aku melihatnya, aku sering berpikiran edan, yaitu membayangkan bisa bersetubuh dengannya. Sebaliknya bila ia melihatku, sikapnya biasa-biasa saja, walaupun aku tahu sebenarnya dia menyukaiku.

Pada suatu hari yg tak terduga olehku, seolah-olah keinginanku dikabulkan (masa?). Saat kuliah usai pada jam 19.00 sore, selepas keluar ruangan aku hendak utk mencuci muka, sekedar menyegarkan diri. Aku menuju WC kampus yg kebetulan letaknya agak menyendiri dari "peradaban" kampus. Sampai di sana aku mendapati beberapa orang yg juga akan mempergunakan kamar mandi. Selagi menunggu giliran, aku ingin buang air kecil dulu, tapi kamar mandi sedang dipakai. Praktis aku urungkan saja. Begitu tiba giliranku, aku hendak menuju ke arah kran, tiba-tiba dari arah pintu kamar mandi yg tertutup tadi keluarlah seorang cewek yg selama ini kusukai dan dia juga mengincarku. Aku sangat tekejut melihatnya, sikapku hampir salah tingkah, begitu pun dengan dia. Kami saling bertatapan mata dan terdiam beberapa saat. Kemudian dia sedikit tersenyum malu-malu. Kok dia ada disini sih?, Pikirku. Akhirnya aku memberanikan diri utk memulai percakapan.

"La, ngapain elo masuk ke WC cowok?" tanyaku penuh rasa heran.
"Ehhhh...... itu..... ehmmm... tempat cewek penuh semua, makanya gue ke sini."
"Emang yg di lantai bawah juga penuh?" tanyaku. Padahal dalam hati aku merasa mendapat kesempatan emas.
"Iya. Emang kenapa? Boleh dong sebentar doang. Lagi pula 'kan sekarang udah nggak ada siapa-siapa, ya kan?" jawab Ella rada genit. Aku pun tidak mau kalah. "Tapi kan gue cowok, elo nggak malu?", gantian aku membalasnya.

"Kalo elo gue emang nggak keberatan kok. Untungnya cuman tinggal elo dong yg ada di sini, daripada yg laen," jawab Ella. Denger jawaban kayak gitu, aku malah jadi tambah bengong. Gila, kayaknya dia emang ngasih kesempatan nih! Pikirku. Tiba-tiba dia menyerobot posisi gue yg dari tadi udah berdiri di samping kran. "Sorry yah, gue duluan, habis elo bengong aja sih," katanya.

Rupanya dia juga mau mencuci muka. Selama dia mencuci muka, aku seperti orang bingung. Kadang-kadang aku mencuri pandang ke arah bagian yg terlarang. Posisinya yg sedang membungkuk membuat pantatnya yg berisi menungging ke arah selangkanganku. Ditambah lagi CD-nya yg berwarna krem terlihat olehku. Lama kelamaan aku menjadi terangsang, kontolku mulai tegang tak karuan. Langsung saja di pikiranku membayangkan kontolku kumasukkan ke dalam memeknya dari belakang pada posisi seperti itu. Entah apa yg merasuki pikiranku, aku berniat utk menyetubuhinya di WC ini, sebab hasratku sudah tak tertahankan. Aku tak peduli dia keberatan atau tidak. Pokoknya aku harus ngentot dengan dia, apapun caranya.

Diam-diam aku berdiri di pintu keluar, mengamati keadaan. Aman pikirku, tak ada seorang pun. Jadi aku bisa leluasa melaksanakan niat bejatku. Saat dia menuju pintu keluar, dari jauh aku sudah melihat senyumannya yg merangsang birahiku. Sepertinya dia memang sengaja menarik perhatianku. Tiba-tiba dengan cepat kupalangkan tanganku di depannya, sehingga ia menghentikan langkahnya. Dia melihatku seakan-akan mengerti maksudku.
"Buru-buru amat La, emang elo udah ada kuliah lagi?" tanyaku.
"Enggak kok, gue cuman pengen shalat di sini aja," jawabnya.

Aku tak menanggapinya. Dengan cepat aku segera menutup dan mengunci pintu dari dalam. Melihat sikapku, Ella mulai menatapku dalam-dalam. Dengan perlahan kudekati dia. Kutatap kedua matanya yg indah. Dia mulai bereaksi, perlahan dia juga mulai mendekatiku, sehingga wajah kami berdekatan. Aku mulai merasa bahwa dia juga merasakan hal yg sama denganku. Nafasnya juga semakin memburu, seolah-olah dia mengerti permainan yg akan kulakukan. Mulutnya mulai terbuka seperti akan mengatakan sesuatu, namun dia keburu mengecupku dengan lembut. Perasaanku saat itu tak menentu, sebab baru kali inilah aku dicium oleh seorang cewek. Dengan spontan aku pun membalasnya dengan mesra. Aneh, walaupun aku belum pernah melakukannya, otomatis aku tahu apa yg harus mesti kulakukan. Apalagi aku juga sering melihat di film BF.

Kami saling bermain lidah cukup lama, sampai kami kesulitan bernafas. Kedua bibir kami berpagut sangat erat. Desahan Ella membuatku semakin hot menciumnya. Aku mulai menggerakkan tanganku menuju ke pantatnya, kuraba dengan lembut, dan dengan gemas kuremas pantatnya. Kemudian aku mencoba utk mengusap bagian memeknya. Kugosok-gosok sampai dia mengerang kenikmatan. Aku panik kalau erangannya terdengar ke luar. Setelah kuberi tahu dia mengerti dan mengecup bibirku sekali lagi. Usapanku membuat cairan memeknya membasahi celananya. Karena dia memakai celana bahan, maka cairannya juga membasahi tanganku.
"sssshhhhtthttt... gilaaaaaa, enak banget. Ehmmmm...." Desah Ella.

Aku melepaskan ciumanku dan berpindah menciumi lehernya yg putih mulus. Lehernya yg harum membuatku makin gencar menciumi lehernya. Mata Ella terlihat mendelik dan menengadahkan mukanya ke atas merasakan kenikmatan. Tangannnya mulai berani utk meremas kontolku yg keras. Enak sekali pijitannya, membuat kontolku semakin berdenyut-denyut.

Aku berhenti menciumi lehernya, aku mulai meraba-raba toketnya yg sudah mengeras. Ella mulai membuka kaosnya, dan memintaku utk memainkan kedua toketnya. Kuraba-raba dengan lembut, dan sesekali kuremas sedikit. Merasa masih ada penghalang, kubuka BH-nya yg berwarna putih. Benar-benar pemandangan yg sangat indah, toketnya yg berukuran sedang, putih mulus, dan putingnya merah kecoklatan terlihat menantang seperti siap utk dikemot. Langsung saja aku sedot susunya yg kenyal itu. Ella menggelinjang kenikmatan dan memekik. Aku tak peduli ada orang yg mendengar. Rupanya dia senang menyemprotkan parfum ke dadanya, sehingga terasa lebih nikmat mengemoti toket harum. Aku benar-benar menikmati toket Ella dan aku ingin mengemoti toket Ella sampai dia menyerah. Kujilat putting susunya sampai putingnya berdiri tegak. Kulihat Ella seperti sudah diawang-awang, tak sadarkan diri.

Tangan Ella mulai membuka ritsleting celana gue dan berusaha mengeluarkan kontol gue yg sudah keras sekali. Begitu semua terlepas bebaslah kontol gue menggantung di depan mukanya yg sebelumnya dia telah mengambil posisi jongkok. Dia kocok-kocok kontol gue, sepertinya dia sedang mengamati dahulu. Lalu dia mulai mencium sedikit-sedikit. Kemudian dia mencoba membuka mulutnya utk memasukkan kontolku. Pertama hanya 1/4 nya yg masuk, lama-lama hampir seluruh kontolku masuk ke mulutnya yg seksi, kontolku sama sekali sudah tak terlihat lagi. Lalu dia mulai memaju mundurkan kontolku dalam mulutnya. Sedotan dan hisapannya sungguh luar biasa, seperti di film BF. Aku menahan rasa geli yg amat sangat, sehingga hampir saja aku mengeluarkan maniku di dalam mulutnya. Belum saatnya, pikirku. Aku ingin mengeluarkan maniku di dalam memeknya. Maka aku memberi tanda agar Ella berhenti sebentar. Aku berusaha menenangkan diri sambil mengusap-ngusap toketnya. Setelah rileks sedikit, Ella mulai melanjutkan permainannya selama kurang lebih 10 menit. Ella sempat menjilat cairan bening yg mulai keluar dari ujung kontolku dan menelannya.

Ella kemudian bangkit utk melepaskan celana panjangnya, ia juga melepaskan CD-nya yg berwarna krem. Aku mengambil posisi jongkok utk menjilati memeknya dahulu, agar licin. Kubuka pahanya lebar-lebar. Terlihatlah memek Ella yg sangat bersih, berwarna merah, lipatannya masih kencang, tak tampak sehelai bulu satu pun. Sepertinya Ella memang pandai merawat kewanitaannya. Aku mulai menjulurkan lidahku ke memeknya. Aku sempat berpikir bagaimana kalau di memeknya tercium bau yg tidak sedap. Ah, bodo amat aku sudah bernafsu, aku tahan nafas saja.

Kubuka belahan memeknya. Lalu kujilat bagian dalamnya. Tapi ternyata koq baunya tidak seperti yg kubayangkan sebelumnya. Memek Ella tidak berbau kecut, tapi juga tidak berbau harum, bau memek alami. Justru bau yg alami seperti itulah yg membuatku makin bernafsu serasa ingin melumatnya semua ke dalam mulutku. Aaaahhh, Ella benar-benar pandai merawat memeknya. Sungguh beruntung aku.

Aku terus menjilat-jilat memeknya yg mulai basah dengan cairannya. Ella terlihat sangat menikmati permainan ini. Matanya sayu, desahannya makin keras seraya menggigit bibir bawahnya.
"Akkkkkkkhhh, sssssstttttstts... uuuugghhht... gilaaaa, enak banget," desah Ella. Memeknya terasa hangat dan lembut. Betul-betuk memek ternikmat yg kurasakan.

Kumasukkan jari telunjukku ke dalam memeknya sambil mengait-ngaitkan ke dinding memeknya. Tentu saja Ella makin edan reaksinya, membuat semakin kelojotan nggak keruan. Sampai ia menjepitkan kedua belah pahanya hingga kepalaku terjepit di antara sepasang paha yg putih mulus, dan tangannya menjambak rambutku sampai aku sendiri merasa kesakitan. Cairan yg keluar dari memeknya sampai meleleh ke pipiku dan kepahanya. Sebagian sempat mengalir ke bibirku. Karena penasaran dengan selama ini yg kutahu, kucicipi cairan itu. Gila! Rasanya enak koq, agak asin. Langsung aja aku hisap sebanyak-banyaknya dari memeknya. Ella sempat risih melihat perbuatanku. Namun aku cuek saja, sebab dia tadi juga melakukan hal yg sama pada kontolku.

Tiba-tiba Ella mendorong kepalaku dari memeknya. Kayaknya dia sudah nggak kuat lagi.
"Masukin dong punya elo, gue udah nggak tahan nich. Ayo dong sayyyy," minta Ella dengan suara mendesah. Aku sempat tertegun sejenak, sebab sama sekali aku belum pernah melakukannya.
"Ayo cepat dikit dong," katanya sambil memandangku yg tertegun sejenak. Dengan bermodal nekat dan pengetahuan dari film BF, gue turutin saja permintaan Ella.

Kuangkat satu kakinya ke atas bak mandi, sehingga posisi memeknya lebih terbuka. Memeknya sudah basah sekali oleh cairan sehingga terlihat mengkilat. Hal itu makin membuatku bernafsu utk memasukkan kontolku ke memeknya. Kuelus-elus dahulu kepala kontolku ke bibir memeknya. Kudorong kontolku perlahan,masuk sedikit demi sedkit.

Pantatku terus kudorong, terasa sebagian kepala kontolku sudah masuk ke lobang memek Ella yg sudah basah dan licin tapi terasa sempit banget. Dalam hati aku beruntung juga bisa ngerasain sempitnya memek perawan. Kucoba kugesek dan menekan perlahan sekali lagi. Kontolku sudah masuk setengahnya, namun masih terasa sempit sekali. Tubuh Ella sempat tersentak ketika kontolku sudah masuk seluruhnya.
"Auuuuww, sakiiiitttttt... pelannnn... sssssttst..."
Ella sedikit menjerit.

Kutarik kontolku keluar, lalu kudorong lagi sekuat tenaga. Aku sengaja membiarkan kontolku menancap di dalamnya beberapa saat agar memek Ella terbiasa menerima kontolku. Kemudian barulah aku memulai gerakan maju mundur. Terasa kontolku bergesekan dengan dinding memek yg bergerinjal-gerinjal. Jadi ini toh yg dinamakan bersetubuh, pikirku dalam hati. Kontolku terasa agak perih dijepit oleh memeknya, tapi tetap kuteruskan, aku tak mau kehilangan kesempatan berharga ini.

Tampaklah pemandangan indah ketika kontolku keluar masuk memek Ella. Kontolku sudah tidak terasa perih lagi, malah sebaliknya, terasa geli ngilu enak. Ella semakin tidak jelas rintihannya, seperti orang menangis, air matanya meleleh keluar. Mulutnya menggigit bibirnya sendiri menahan sakit. Aku sempat kasihan melihatnya. Mungkin aku sudah keterlaluan. Kucoba berbicara padanya sambil kedua pinggul kami menghentak-hentak.

"Kenapa La... Ehhgg, elo pengen udahannn?" tanyaku.
"Jangan dilepas... terussinnnn aja. Gue nggak apa-apa kok, sststtt," kata Ella.

Goyangan pinggul Ella sangat luar biasa, hampir aku dibuat ngecret sekali lagi. Kutarik kontolku keluar dan kudiamkan beberapa saat. Setelah itu aku minta ganti posisi, aku ingin ngentotin dia dari belakang. Ella berpegangan pada pintu kamar mandi, sedangkan pantatnya sudah menungging ke arahku. Dalam posisi itu lipatan memeknya terlihat lebih jelas. Tanpa basa-basi lagi kumasukkan saja kontolku dengan hentakan yg kuat. Kali ini lebih lancar, sebab memeknya sudah terbiasa menerima kontolku.

Kali ini gerakan Ella lebih hot dari sebelumnya, ia mulai memutar-mutar pantatnya. Setiap gerakan pantatnya membuat kontolku sangat geli luar biasa. Kontolku berdenyut-denyut seperti ingin memuntahkan lahar yg panas. Aku merasa tak tahan lebih lama lagi. Tapi aku tak ingin mengecewakan Ella, aku pun berusaha mengimbangi permainannya.

Aduhhhh srrrrrr, ada cairan licin kembali keluar dari kontolku. Cairan itu makin menambah licin dinding memek Ella. Aku benar-benar merasakan kenikmatan persetubuhan ini. Aku makin tenggelam dalam kenikmatan bersetubuh dengan Ella, sungguh aku tak akan melupakannya. Tubuh kami terlihat mengkilat oleh keringat kami berdua. Toket Ella bergoyang-goyang mengikuti irama gerakan kami, membuatku makin gemas utk meremasnya dan sesekali kukemot sampai ia memjerit kecil. Memek Ella makin berbusa akibat kocokan kontolku.

Aku merasakan sesuatu yg tak tertahankan lagi. Aku makin pasrah ketika kenikmatan ini menjalar dari buah zakar menuju dengan cepat ke arah ujung kontolku. Seluruh tubuhku bergetar hendak menerima pelepasan yg luar biasa.
"Laaaa... gue udah mau keluar nihhhhh. Elo masih lama nggak?" rintihku.
"Sabar, sebentarrrr sayaangg. Sama, samaaa... Gue juga hampir keluarrrrr. Oohhh, ahhhggghh...." pantatnya menekan kontolku dengan kuat. Mukanya berusaha menengok ke arahku berusaha mengulum bibirku. Kudekatkan bibirku agar dia bisa mengulumnya.

Bersamaan dengan itu... "aaaaaaaahhhhh...." Kontolku menyemprotkan air mani ke dalam lobang memeknya berkali-kali. Sampai cairan putih itu meleleh ke pahanya dan sempat menetes ke lantai. Tak kusangka banyak sekali spermaku yg berlumuran di memeknya. Ella berjongkok memegang kontolku. Lalu ia menjilat dan mengulum kontolku yg masih berlumuran sperma. Dia menelan semua spermaku sampai kepala kontolku bersih mengkilat. Dia kelihatan tersenyum bangga.

Ella kembali berdiri memandangi penuh kepuasan.Tubuh Ella terjatuh lemas membebani tubuhku, badannya bergetar merasakan orgasme. Ella memandangku tersenyum, disertai dengan nafas yg masih terengah-engah. Kami pun berpelukan dalam tubuh penuh keringat dengan alat kelamin kami masih saling menyatu. Bibir kami saling mengecup dengan mesra, sambil memainkan bagian-bagian sensitif.

Kami membersihkan diri bersama sebelum beranjak keluar WC. Selama kami mandi kami saling mengutarakan sesuatu hal. Iseng-iseng aku bertanya mengapa dia mau menerima perlakuanku barusan.Ternyata Ella mengatakan bahwa selama ini dia sudah lama menyukaiku, namun ia tidak berani mengutarakannya, sebab malu sama teman-temannya. Aku sempat tertegun mendengarnya. Kemudian aku juga mengatakan bahwa aku juga suka padanya. Seakan dia tak percaya, tetapi setelah kejadian tadi kami menjadi saling menyayangi. Kami kembali berpelukan dengan mesra sambil saling mengecup bibir.

Aku sempat khawatir kalau Ella hamil, sebab aku mengeluarkan spermaku di dalam memeknya. Aku tidak mau menikah, aku belum siap jadi bapak. Biarlah, kalaupun Ella hamil, aku akan membuat suatu rencana. Lagipula kami melakukannya baru sekali, jadi kemungkinan dia hamil kecil peluangnya. (Komentar Wiro: Ini anggapan salah. Kalau Ela sedang dalam masa subur, walau cuma sekali maka kemungkinan hamil sangat besar!)

Selesai mandi aku menyuruh Ella keluar belakangan, aku keluar duluan agar bisa mengamati keadaan. Setelah tidak ada orang satupun, barulah Ella keluar, kemudian kami pergi berlawanan arah dan bertemu kembali di suatu tempat. Sampai saat ini hubunganku dengan Ella masih berjalan baik, cuma kami belum mengulang apa yg kami lakukan di WC dulu.

Beberapa minggu setelah kejadian itu aku mendengar fakta dari teman-temannya bahwa Ella itu sebenarnya cewek yg haus seks. Dia juga telah bersetubuh dengan banyak pria, baik dari kalangan mahasiswa atau om-om. Makanya aku sempat curiga waktu kami bersetubuh dulu, sebab walaupun memeknya masih rapat seperti perawan, namun aku tidak merasakan menyentuh selaput daranya, bahkan aku sama sekali juga tidak melihat darah yg keluar dari lubang memeknya. (Komentar Wiro: Ini juga anggapan salah. Selaput dara itu sangat tipis hingga sangat sukar teraba oleh penis. Hanya orang ahli / berpengalaman yang memeriksa secara visual yang mampu menentukan perawan atau tidaknya).

Begitulah kisah saya. Merupakan kebanggaan tersendiri buatku karena akhirnya dapat kesempatan bisa merasakan nikmatnya tubuh wanita!! Bagi para pembaca yg ingin memberi komentar atau bahkan makian silakan email saya di alamat yg tertera. Lain kali bila saya mempunyai pengalaman baru lagi, mudah-mudahan bisa saya kirim.

Sekian.